• Delapan Langkah Memulai Usaha

    Krisis ekonomi yang datang beruntun sangat mempersempit lapangan kerja. Karena banyak perusahaan yang pailit dan menurunkan volume produksinya sehingga tidak ada cara lain kecuali merumahkan karyawan permanen. Sementara angkatan kerja baik yang baru tamat dari bangku SLTA dan perguruan tinggi terus bertambah setiap tahun.
    Mencermati kondisi demikian untuk memperoleh pekerjaan bukan hal mudah. Apalagi setelah banyak perusahaan memberlakukan outsourching, membuat para pencari kerja tidak mempunyai nilai tawar sama sekali. Pihak perusahaan sa­ngat menentukan kapan memerlukan dan kapan mendepaknya. Tinggal pilih mau dikontrak tiga bulan, enam bulan atau paling lama satu tahun. Setelah itu menjadi pengangguran abadi, sebab sulit untuk ikut berkompetisi. Perusahaan cenderung memilih tenaga baru yang baru tamat saja, bagi yang berusia di atas 25 tahun pintu telah tertutup rapat.

    Meski demikian yang melamar sangat banyak. Bagi yang memperoleh kesempatan bekerja model kontrak itupun yang mempunyai koneksi. Sedang yang murni mengadu nasib mengirim lamaran kerja lewat pos atau menitipkan ke satpam jarang direspon, kalau toh dipanggil juga sekadar formalitas saja.

    Nah, sementara kehidupan dan kebutuhannya silih berganti datang. Bagaimana bisa tercukupi jika kita tidak memiliki pendapatan. Untuk itu tidak ada cara lain kecuali merubah pola pikir dari mencari pekerjaan menjadi membuat lapangan kerja. Mulailah menjadi pelaku usaha atau entrepreneur yang sukses.

    Agar dapat menimalisir kegagalan, sebelum terjun ke dalamnya tidak ada salahnya kalau kita memperhatikan beberapa tips sukses. Salah satunya adalah mengikuti delapan langkah di bawah ini.

    Mengetahui atau Mengenali Diri Sendiri
    Menurut analisis terhadap para pelaku usaha yang berhasil kebanyakan mempunyai corak atau sifat-sifat seperti, orang yg memulai sendiri dan pekerja keras, berorientasi pada orang, berani dan tidak ragu dalam membuat keputusan. Dalam memimpin dapat dipercaya dan kata-katanya dapat dipegang, bertanggung jawab, tekun dan ulet. Memiliki tata organisasi yang teratur dan sehat.

    Selain itu hendaknya memperhatikan hal-hal yang juga sangat mempengaruhi terhadap usaha jenis apapun yang akan ditekuninya. Antara lain pengalaman kerja pada masa sebelumnya akan menentukan jenis usaha yang akan dimulainya. Apalagi jika telah mengenal dengan produk atau jasa dan industrinya, biasanya akan mempermudah jalan untuk memulai usaha. Sebab, biasanya dalam memulai usaha akan sangat rumit jika keduanya sama-sama baru dimulai. Baik baru dalam berusaha (belum pengalaman) maupun belum mengetahui tentang produknya.

    Merencanakan
    Sebelum melangkah, sebaiknya merencanakan usaha apa yang sesuai keahlian atau minat. Sebab, suatu rencana usaha yang baik merupakan garansi untuk keberhasilan. Menurut beberapa survei, perencanaan yang benar merupakan faktor penentu utama bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan suatu usaha.

    Ada tiga alasan mendasar untuk membuat rencana usaha yaitu menentukan kelayakan, menyediakan dokumen tertulis dan membimbing penanganan usaha yang sesungguhnya.
    Sebuah rencana usaha wajib mendokumentasikan aspek-aspek usaha seperti pemasaran, pengorganisasian, dan keuang­an. Hendaknya merencanakan pemulaian suatu usaha untuk menentukan apakah perusahaannya akan mendapatkan keuntungan atau kerugian —di atas kertas— sebelum ia berhenti dari pekerjaannya.

    Selanjutnya memberanikan diri meng­ambil kredit modal untuk kedua kalinya dengan menjadikan rumahnya sebagai jaminan/agunan, dan membuat komitmen dengan (meyakinkan) sanak-keluarga dan kerabat tentang kemungkinan resiko dan keuntungannya. Pelaku usaha juga harus menentukan berapa besar jumlah modal yang diperlukan untuk memulai dan menjalankan usaha sampai usaha tersebut dapat membiayai dirinya (mandiri).

    Selain itu harus secara ketat menguji kebutuhan keuangan dirinya sendiri, karena kebanyakan usaha baru pada masa-masa awal tidak dapat menggaji pemiliknya. Biasanya pemberi pinjaman (bank) dan penanam modal juga ingin melihat suatu rencana usaha. Susunlah secara runut dan cermat rencana usaha kita, sebab ini akan menunjukkan kepada mereka bahwa kita telah mengembangkan gagasan usaha yang dapat dilaksanakan.

    Pendanaan
    Langkah berikutnya adalah mencari atau mendapatkan dana untuk modal. Pertama yang paling mudah dan aman yaitu tabungan. Kemudian menggunakan harta atau aset pribadi sebagai jaminan pada pemberi kredit. Karena biasanya penyedia pinjaman atau penanam modal juga akan mensyaratkan berupa dokumen-dokumen yang sah antara lain, agunan yang jumlahnya setara atau bahkan lebih besar dengan nilai dana yang dipimjam. Pendapatan usaha cukup untuk membayar hutang/pinjaman, mempunyai pengalaman mengelola usaha dari jenis yang sama dan mempunyai komitmen atas keuangan pribadi yang lebih besar.

    Hal-hal yang Legal (UU, Peraturan, Ijin, dll)
    Sebaiknya kita telah memperoleh saran dari seorang ahli, misalnya ahli hukum, agen asuransi, dan akuntan sebelum memutuskan tentang apakah usahanya hanya akan dimiliki sendiri (sole proprietorship), menjalin kemitraan (partnership), atau dalam bentuk perseroan (incorporation). Namun, jikla pelaku usaha akan mempu­nyai penanam modal, bentuk perseroan sepertinya akan lebih tepat.

    Penyimpanan Catatan
    Penyimpanan data atau sistem pembukuan keuangan yang baik adalah sangat pen­ting untuk menyediakan/memberikan informasi yang diperlukan oleh penanam modal, pemberi peminjaman (bank) dan pemerintah. Adanya catatan atau rekaman tersebut sangat penting artinya untuk tujuan perencanaan selanjutnya dan penga­wasan. Kita harus mengetahui berapa banyak uang yang dihasilkan, apa saja pengeluarannya untuk apa saja, berapa keuntungan atau kerugiannya, siapa saja yang berhutang kepada usaha yang di;akukan, serta kepada siapa saja kita berhutang. Nah, semua pertanyaan ini dapat dijawab dengan sistem pemeliharaan atau penyimpanan data (keuangan) yang baik daan transparan. Catatan atau data-data pembukuan yang wajib dimiliki oleh pelaku usaha yang baru antara lain:

    1. Buku Register Cheque yang menunjukkan setiap cheque yang dikeluarkan, tanggal dan jumlah uang pada cheque, penerima check, dan uraian singkat tentang jenis pengeluaran.
    2. Jurnal Penerimaan Kas yang memperlihatkan uang yang diterima atau masuk, tanggal penerimaan, jumlah uang yang diterima, nama pembayar, dan uraian jenis penerimaan.
    3. Buku Besar Rekening yang Harus Dite­rima (Accounts receivable ledger), atau Buku Besar Piutang, yang mendaftarkan uang-uang yang masih belum diterima, yang merupakan kewajiban dari pelanggan anda untuk membayarnya kepada perusahaan anda.
    4. Buku Besar Rekening yang Harus Dibayarkan (Accounts payable ledger), atau Buku Besar Hutang, yang mencatat tagihan-tagihan yang masih belum dibayar oleh perusahaan anda kepada penyedia jasa atau barang (vendors).
    5. Jurnal penggajian/pengupahan yang digunakan untuk menelusuri pembayaran atau penggajihan kepada karyawan dan ini mencakup hal-hal seperti pendapat­an kotor dan pendapatan bersih, pajak pendapatan perorangan, dan berbagai macam potongan gaji lainnya
    6. Buku Besar Pengendalian Inventaris (Inventory control ledger) yang mencatat in­ventaris yang dibeli, inventaris yang dijual, dan inventaris yang masih ada. Buku Besar Inventaris ini hanya cocok yang memiliki inventaris dalam jumlah besar. 

    Asuransi
    Soal asuransi juga sangat diperlukan. Sebelum membuka suatu usaha sebaiknya telah berkonsultasi dengan agen asuransi tentang perlindungan atas harta milik/kekayaan, hutang/pertanggungjawaban, kom­pensasi untuk karyawan, kendaraan, gangguan usaha, kesehatan, dan asuransi jiwa. Kita harus memperoleh “penawaran” dari beberapa agen asuransi, baru kemudian membeli asuransi dan sebaiknya dari satu agen saja. Hal ini akan memungkinkan kita memperoleh layanan atau jasa yang lebih baik. Semua polis asuransi juga ha­rus ditinjau setiap tahun -- sejalan de­ngan pertumbuhan usaha, maka kebutuhan asuransipun akan meningkat.
     
    Perpajakan
    Sebagai warga negara yang baik dan pe­ngusaha yang jujur selalu menu­naikan kewajibannya membayar pajak. Un­tuk itu agar memahami dan membayar se­suai peratur­an perpajakan, sebaiknya ber­konsultasi dengan akuntan publik. Rajinlah mengikuti seminar atau lokakarya yang bertemakan perpajakan. Selanjut­nya, daftarkanlah lembaga usaha ke beberapa instansi terkait baik di pusat maupun di daerah-daerah, serta organisasi-organisasi yang sesuai dengan bidang yang diusahakan.

    Mencari Pertolongan/Bantuan
    Agar usaha yang dijalankan lancar dan berkembang sebaiknya memang perlu didukung dengan beberapa intrumen penting. Buatlah “tim penasehat yang profesional” , terdiri dari konselor usaha dari Kesepakatan Verja Bersama (KKB), penasehat hukum, bankir, dan agen asuransi.

    Sebab, kebanyakan pelaku usaha yang berhasil seringkali mendapat bimbing­an dari wirausahawan yang berhasil. Misalnya, saat mereka bertemu di acara pertemuan yang diselenggarakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta dengan organisasi usaha terkait lainnya. Jika pada saat tersebut meminta nasihat dan mau mendengarkannya, maka peluang keberhasilan akan semakin meningkat/luas.

    Sebagai penutup, siapa yang gagal dalam merencanakan, maka rencanakanlah untuk gagal. Siapa yang gagal bersiap diri, maka siapkanlah diri anda untuk gagal (those who fail to plan, plan to fail). Kita harus meluangkan waktu untuk membuat rencana usahanya dan belajar sebanyak mungkin sebelum membuat keputusan besar seperti itu. Hanya dengan begitulah maka impian untuk memiliki usaha akan menjadi kenyataan. (Slamet AW- Dari berbagai sumber)

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post