• Kerajinan Lampion Benang Pendekor Ruangan

    Kreatifitas yang tidak terbatas mampu membuat suatu hal yang mustahil menjadi mungkin. Apakah Anda tahu benang bisa dibuat menjadi lampu cantik? Penasaran? Yuk, kita intip cara pembuatannya.

    Usaha pembuatan berbagai ma­cam produk kerajinan tangan mulai dirintis oleh Nina Yulianti sejak tahun 2005 silam. Bermula dari ketidakpuasan atas tudung saji miliknya, maka perempuan mungil yang akrab disapa Nina itu secara spontan mengubah tudung saji yang tadinya sudah rusak itu menjadi layak digunakan.

    “Tadinya hanya iseng lho mbak. Agar kembali layak pakai, tudung itu akhirnya saya preteli dan dibuat semenarik mungkin dengan bahan seadanya. Eh yang terjadi tudung be­rubah menjadi cantik dan bisa digunakan,” kata Nina kepada PIP di kediamannya, Komplek Perumahan Sarana Indah Permai, Ciputat, Tange­rang Selatan, pertengahan April lalu.

    Lama kelamaan beberapa teman yang datang kerumah Nina langsung jatuh hati melihat tudung saji buatannya. Dari sanalah, Nina lalu memberanikan diri memproduksi tudung saji lebih banyak lagi.

    Dari beberapa order yang datang belum bisa membuat nyali ibu dengan satu orang puteri ini berani mendirikan usaha kerajinan tangan. “Bermula dari sa­ya menitipkan barang di bazar salah satu mal di Jakarta. Setelah itu saya memberanikan diri menerima pe­sanan yang lebih ba­nyak,” ujarnya.

    Kendati usaha yang berlabel Zahra Kemilau Handycraft itu berjalan, Nina tetap tidak puas dengan kerajin­an produksinya. Pasalnya, ke­rajinan tudung saji menjadi lebih terkenal dan banyak yang meniru. Merasa mendapat tantangan dari PT Krakatau Steel yang menjadi mitra pembina, maka Nina serius untuk mengembangkan usaha yang telah berjalan selama 5 tahun itu ke arah yang lebih maju.

    Nina pun bersama suami lalu mendapat ide untuk membuat lam­pion. Sebenarnya usaha pembuatan lampion sudah menjamur di mana-mana, tetapi karena sifatnya yang pantang menyerah, Nina menginginkan lampion buatannya lain dari yang lain. “Saya bersama suami terus memikirkan bahan dan cara pembuatan lampion buatan kami,” tutur Nina.
    Pasangan suami-istri ini memang ulet dalam memikirkan ide-ide baru untuk mengembangkan usahanya. Terbukti, usaha mereka pun tidak sia-sia. Benang yang umumnya untuk menjahit baju atau dirajut menjadi kain, ternyata mampu dikreasikan menjadi sebuah lampu lampion yang cantik dan serba guna.

    Tanpa Cetakan
    Pembuatan lampion-lampion nan cantik buatan Zahra Kemilau Handycraft ternyata tidak menggunakan cetakan, melainkan balon tiup. Di tangan Nina, balon tiup yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain atau mendekorasi ruangan pada acara tertentu, menjadi cetakan yang sangat berguna untuk pembuatan lampion. “Caranya, balon ditiup, dan besar-kecilnya sesuai dengan yang kita inginkan. Setelah itu balon diolesi lem dan dililiti benang-benang,” ujar Nina, membuka rahasia produksinya.

    Semula, Nina dan suaminya me­ngaku bingung dalam membuat lampion. “Tadinya kita memakai bola plastik, tapi setelah kering dan jadi, saya bingung bagaimana cara mengeluarkannya, Namun, dengan niat dan usaha yang kuat akhirnya kami menemukan suatu cara,” tambahnya.

    Berkat kreativitas dan usaha dalam produksi lampion dari benang tersebut, Nina dengan benderanya Zahra Kemilau Handycraft berhasil memperoleh penghargaan PKBL BUMN Award 2009 untuk nominasi Mitra Teladan. “Alhamdulillah, saya senang sekali dan ingin membuat kerajinan tangan yang lebih unik,” kata Nina, bangga.

    Berbagai pameran pun telah dia ikuti demi kemajuan dan sebagai ajang promosi kerajinan tangan khas buatan Indonesia, antara lain pada Maret 2009 Zahra Kemilau Handycraft mengikuti pameran pro­duk kerajinan yang digelar Dewan Kerajinan Na­sional (Dekranas), Gelar PKBL, dan yang terbaru pameran Inacraft di Jakarta Convention Centre, akhir April lalu.

    Modal Tidak Besar
    Menurut Nina, modal awal yang diperlukan untuk usaha awalnya, kerajinan tudung saji, tidak begitu me­nguras kantong. Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengaku hanya menyiapkan modal Rp 500 ribu. Uang ini dipakai untuk modal membuat kerangka tudung saji yang terbuat dari besi dan membutuhkan keahlian tersendiri. Maka itu ia menyewa tukang las untuk membuat kerangkanya. Sedangkan sisi modal digunakan untuk membeli bahan-bahan sebagai penutup tudung saji.

    Tudung saji buatan wanita kela­hiran Jakarta ini sangat alami, karena menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan. Misalnya, untuk hiasan, digunakan bunga-bunga kering dan biji-bijian, juga menggunakan kertas daur ulang yang sudah dilinting-linting.

    Sementara itu, harga produk tudung saji produksi Nina cukup beragam. Untuk sebuah tudung saji cantik, harganya relatif murah. Sedangkan harga lampion gantung dipatok mulai Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu per buah. “Itu untuk harga eceran. Jika belinya banyak, saya bisa memberi harga lebih murah,” paparnya.

    Tetapi untuk lampion duduk, harga yang ditawarkan sedikit lebih tinggi ketimbang lampion gantung, karena memakai alas duduk yang terbuat dari kayu. Harga produk ini mulai Rp 100 ribu sampai Rp 250 ribu per buah.

    Dengan bantuan empat tenaga ahli dan beberapa karyawan honorer, usaha Nina mampu memproduksi satu buah lampion gantung dalam tempo 15 menit. Benang yang dipakai pun beragam jumlahnya, biasanya untuk sebuah lampion kecil dibu­tuhkan 20 gulung benang ber­ukuran kecil.

    Saat ini usaha kerajinan yang dijalankan Nina bersama suaminya itu mampu membukukan omset berkisar Rp 3 juta sampai Rp 5 juta per bulan. Namun, omset dipastikan meningkat jika ada order besar untuk event tertentu, sehingga keuntungan pun turut membengkak.

    Sejauh ini terbersit keinginan Nina untuk dapat mengekspor barang-ba­rang kerajinan hasil produksinya. Ha­nya saja, ia masih menghadapi se­jumlah kendala yang umumnya diha­dapi industri kerajinan berskala kecil. “Selain kendala pemasaran, yang paling umum bagi usaha saya adalah ken­dala cuaca. Jika musim hujan, saya tidak bisa membuat banyak lampion karena mengeringkannya susah,” ujar Nina.

    Perempuan 33 tahun ini mengaku tidak memiliki kiat-kiat khusus dalam menjalankan usahanya. Melainkan prin­sip usaha yang terbilang simpel, yakni jangan malu dan takut gagal untuk mencoba suatu usaha, juga jangan menyerah sampai niat untuk membuat sebuah kerajinan tangan terwujud.

    Tentang harapan ke depan, Nina me­­nyebut sebuah keinginan yang umumnya dikehendaki oleh pengusaha produk kerajinan, yakni agar usaha lebih maju dan dikenal masyarakat luas. Hanya bedanya, ia senantiasa berharap dapat menemukan pembeli yang T, O, P, B, G, T alias top banget. (Chindya CM)

    Related Posts :



2 komentar:

  1. Amelia says:

    kerajinan yang dibuat kreatif banget. kayanya kreatifitas macam ini perlu ditanamkan sama anak-anak muda zaman sekarang biar bisa berwirausaha sendiri..

    makasih ya info nya.

  1. sofi says:

    terimakasih, artikelnya bisa jadi acuan untuk memulai usaha sendiri

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post