• Credit Agricole Perancis - Bank Koperasi di Prancis

    Majid Hamidi Nanlohy

    Industri perbankan Perancis, terguncang oleh imbas krisis keuangan global yang berhulu di Amerika Serikat. Tapi, bank koperasi ini tetap menjulang sebagai salah satu terbesar di Perancis bahkan Eropa, dengan wilayah operasional yang menjangkau 70 negara.

    Kalangan perbankan Perancis dilanda kepanikan luar biasa. Setelah diguncang oleh skandal pembobolan Societe Generale sebesar 4,9 milir Euro (angka pembobolan terbesar sepanjang sejarah perbankan Perancis) pada awal 2008, sekarang giliran Caisse d’Epargne yang mendadak bangkrut akibat hempasan dahsyat krisis keuangan global yang dipicu oleh macetnya kredit perumahan (sub prime) di Amerika Serikat (AS). Kerugian yang menggulung salah satu bank terbesar di Perancis ini, mencapai 600 miliar Euro atau 800 miliar dolar AS.

    Perdana Menteri Perancis Nicolas Sarcozy ikut berang, karena kasus tersebut sangat berpengaruh perekonomian negaranya. Kejatuhan bank yang memiliki 27 juta nasabah itu, ikut merontokkan kepercayaan dunia usaha terhadap sistem perbankan Perancis. Beruntung, negeri berpenduduk 64,5 juta jiwa ini, masih memiliki satu bank besar, yang nyaris tak tergoyahkan oleh krisis, yaitu Credit Agricole.

    Saat ini, Credit Agricole masih duduk di singasana terhormat, sebagai bank yang memiliki wilayah operasi paling luas di Eropa, menjangkau lebih dari 70 negara. Dengan 9.000 kantor cabang, Credit Agricole melayani lebih dari 26 juta nasabah perorangan, serta pelaku usaha kecil menengah (UKM).

    Credit Agricole adalah bank yang bekerja dengan sistem koperasi, yang memiliki sejarah panjang. Embrionya mulai muncul pada 1856, menyusul terjadinya gagal panen besar-besaran di Perancis. Para petani bukan saja terancam kelaparan, tapi juga sulit untuk bangkit kembali karena tidak lagi mempunyai modal untuk memulai usaha taninya. Tidak ada satu lembaga keuangan pun yang sudi meminjamkan uangnya pada mereka.

    Lantas, pemerintah turun tangan dengan membentuk Societe de Credit, semacam kelompok tani, untuk mendapatkan berbagai bantuan. Kelompok inilah yang kemudian menjelma menjadi koperasi simpan pinjam di lingkungan petani, yang bersifat independen. Koperasi pertama terbentuk pada 1885 di Salins-les-Bains. Koperasi ini mampu memberikan pinjaman pada petani yang menjadi anggotanya, namun dibatasi sampai 500 Frank.

    Sejak itu, koperasi simpan pinjam petani terus berkembang, mengawal pertumbuhan sektor pertanian Perancis yang makin moderen. Pemerintah sangat memperhatikan bank koperasi pedesaan ini, karena perannya yang besar. Terlebih, para petani kecil yang menjadi anggotanya, saat itu memberikan kontribusi paling besar terhadap produksi pertanian nasional, jauh melewati kontribusi industri pertanian (estate).

    Lantas, koperasi-koperasi petani tersebut membentuk bank lokal. Melalui koperasinya, mereka mempunyai kontrol terhadap bank tersebut, termasuk dalam memilih para pengelolanya. Bank-bank lokal tersebut kemudian membangun jaringan di tingkat nasional, hingga membentuk Credit Agricole. Dengan jaringan sistem keuangan yang makin mapan ini, petani di Perancis tidak pernah lagi mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan modalnya. Mereka juga sangat loyal menyimpan uangnya di koperasi.

    Pada 1914, sehabis Perang Dunia I, panggung perbankan Perancis goyah. Sektor pertanian pun kembali mengalami penurunan, dengan tingkat produksi yang makin rendah. Namun, guncangan hebat ini tidak menggoyahkan Credit Agricole. Meskipun, sampai 1930 tingkat produksi pertanian tidak pernah kembali ke level sebelum Perang Dunia I. Credit Agricole justru dituntut untuk bisa memacu kembali produktivitas pertanian, melalui pelayanan kreditnya. Di sini, pemerintah memang membantu. Bahkan, pada 1920, pemerintah ikut mengontrol Credit Agricole, meskipun kepemilikannya tetap berbasis pada petani. Kontrol pemerintah ini terkait dengan kredit yang disalurkan, yang sebagian besar memang berasal dari kas negara.

    Setelah melewati fase sulit, Credit Agricole kembali tumbuh, dengan kapasitasnya yang makin besar. Bank ini bukan hanya memberi layanan pinjaman kepada petani secara individual, tetapi juga pada koperasi petani yang mulai merambah pada sektor perdagangan, dan agroindustri. Di sini, koperasi lagi-lagi memainkan peran besarnya, dalam pemulihan ekonomi Perancis pasca Perang Dunia I.

    Ketika Perang Dunia II meletus, lagi-lagi sektor pertanian terpukul. Bahkan lebih hebat. Namun karena Credit Agricole sudah makin mapan, proses pemulihannya jadi lebih cepat.

    Setelah 1945, Bank of France dan sejumlah bank utama lain di Perancis, mengalami nasionalisasi. Di bawah kendali Menteri Keuangan, pemerintah mempunyai kendali lebih besar terhadap target penyaluran kredit. Untungnya, sektor pertanian masih mendapat perhatian besar. Kinerja Credit Agricole pun makin berotot.

    Setelah Perang Dunia II berakhir, Credit Agricole melebarkan penyaluran kreditnya, untuk mendukung berbagai pembangunan infrastruktur pendukung pertanian. Mulai dari pabrik pupuk, pengairan, pabrik peralatan pertanian modern sampai listrik pedesaan. Langkah ini leluasa dilakukan, karena kredit yang disalurkan mendapat subsidi dari pemerintah.

    Namun begitu, bukan berarti para petani bersikap pasif menerima kredit bersubsidi. Mereka juga aktif mengimpun modal bagi bank koperasi. Selama periode 1938 sampai 1946, modal yang dihimpun bank koperasi lokal, mengalami lompatan besar, dari FFr 1,6 miliar, menjadi FFr 28 miliar.

    Kendati melakukan ekspansi kredit secara besar-besaran ke infrastruktur pertanian, Credit Agricole tidak pernah melupakan penyaluran kredit pada petani kecil, yang menjadi anggota koperasi. Di banding negara-negara Eropa lain, produktivitas pertanian Perancis memang relatif lebih kecil, karena lebih banyak mengandalkan petani yang memiliki lahan sempit.

    Untuk memperbesar kapasitasnya, Credit Agricole terus melakukan ekspansi kredit, hingga merambah sektor lain yang tidak terkait dengan pertanian. Memasuki era 1970-an, bank ini melahirkan sejumlah anak perusahaan, termasuk industri pengolahan makanan. Langkah ini memang berhasil menggenjot kinerja bisnis Credit Agricole. Namun, pemerintah selalu mengingatkan agar kredit kepada petani tidak diabaikan. Peringatan paling serius, dilontarkan oleh Menteri Keuangan Giscard d’Estaing. “Credit Agricole jangan terlena mengejar keuntungan financial, tetapi juga harus tetap memperhatikan keuntungan sosial, dengan melayani para petani,” tandasnya, “Keduanya harus seimbang.”

    Di luar Credit Agricole, memang tuidak ada bank lain yang mau membiayai sektor pertanian. Jadi kredit pertanian benar-benar dimonopoli Credit Agricole. Bahkan, kredit pertanian mendapat fasilitas bebas pajak dari pemerintah.

    Pada 1975, Credit Agricole melebarkan ekspansinya hingga menembus luar negeri. Namun, untuk kredit antar negara, sector yang dibiayai masih berhubungan dengan pertanian, misalnya, pada eksportir dan importir produk pertanian. Pada 1977, saat mata uang dolar AS terpuruk, Credit Agricole sempat tampil sebagai bank terbesar di dunia. Pada 1978, Credit Agricole mencetak keuntungan FFr400 juta, melewati keuntungan yang diraih tiga bank besar Perancis digabung jadi satu.

    Ekspansi Credit Agricole ke luar negeri makin kokoh, setelah pada 1979 membuka cabang di Chicago, AS, disusul cabang lain di London, Inggris, dan New York, AS. Langkah ini terus berlanjut, hingga meliputi lebih dari 70 negara.

    Setelah tampil sebagai “penyelamat” pada krisis semasa Perang Dunia I dan II, kini Credit Agricole kembali tampil untuk menyelamatkan sektor keuangan Perancis, salah satu negara maju dengan Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar keenam di dunia.

    Jaringan Credit Agricolen 39 Bank Regional
    - 2.573 Bank Lokal.
    - 7.160 Kantor Cabang.
    - 5,7 juta Koperasi Pemegang Saham.
    - 20 juta nasabah.
    - 11.300 Automated Teller Machines (ATMs). (Husni Rasyad)

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post