• Koperasi Kredit Indonesia-Puskopdit-Inkopdit

    Kopdit di Indonesia, pernah mendapat dukungan yang intens dari gerakan gerakan koperasi Kanada. Dibanding koperasi lain, gerakan kopdit terbilang paling solid, dengan pencapaian yang patut dibanggakan.

    Koperasi kredit, boleh jadi merupakan satu-satunya jenis koperasi yang berhasil membangun jaringan paling kuat di dunia. Saat ini, gerakan kopdit sudah eksis di 91 negara, dengan jumlah 43 ribu unit dan menghimpun anggota sebanyak 136 juta orang. Di Indonesia, jaringan kopdit yang membentang antara primer, sekunder tingkat provinsi (Puskopdit) dan sekunder nasional (Inkopdit), telah tumbuh paling solid dibanding koperasi lain, dengan total aset mencapai Rp 3,4 triliun.

    Syiar kopdit di Indonesia sudah dimulai pada akhir tahun 60-an, ketika A.A. Bailey dari World Council of Credit Union (WOCCU) berkunjung. Langkah ini kemudian bergulir, terutama setelah dibentuk Credit Union Counseling Office (COCU) atau Biro Konsultasi Usaha Simpan Pinjam pada 1969 yang dipimpin K. Albrecht bersama Robby Tulus dan M. Wuryadi.

    Dalam susunan Dewan Penyantun COCU, terdapat nama-nama beken seperti Ibnoe Soedjono (ketika itu masih menjabat Dirjen Koperasi), Margono Djohohadikusumo (tokoh perbankan, ayahanda begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo), Mochtar Lubis (wartawan terkemuka), Fuad Hasan (Mantan Menteri Pendidikan, saat itu masih sebagai Dekan FE UI) dan tokoh lainnya termasuk pastor J. Dijkstra SJ.

    Namun, nama-mana beken itu aktif bukan untuk membentangkan “karpet merah” bagi perkembangan credit union (CU). Mereka lebih konsen pada penyelenggaraan pendidikan, untuk menyadarkan masyarakat lapisan bawah, tentang manfaat berkoperasi dalam meningkatkan kemampuan ekonomi mereka secara mandiri.

    Perjalananan CU sendiri justru banyak mengalami hambatan. Terutama karena dianggap sebagai koperasi liar, bahkan isukan sebagai alat penyebaran agama tertentu. Alasan menggunakan nama CU pun, adalah untuk mengeliminir tuduhan koperasi liar.

    Dari hasil pendidikan, pada 7 Desember 1970, berdirilah CU Swadaya di Bandung, sebagai CU pertama. Selanjutnya, bermunculan pula di daerah lain, meskipun tidak begitu pesat. Pada 1976, beberapa CU sudah berani mengubah namanya menjadi koperasi kredit.

    Selain keterlibatan sejumlah tokoh, perkembangan CU juga kemudian banyak disupport oleh jaringan CU internasional. Tentu saja, termasuk gerakan koperasi kredit Kanada. Bahkan, melalui Canadian Cooperative Association (CCA), dukungan dari Kanada ini belangsung lebih intens, antara lain karena Robby Tulus aktif di sana.

    Namun, satu hal yang menarik adalah, segala bentuk bantuan yang diterima gerakan kopdit Indonesia, hampir semuanya teruju pada pendidikan. Tidak ada alokasi yang berpotensi merusak kemandirian, misalnya, bantuan permodalan. Masuk akal, karena dengan anggota yang sadar akan pentingnya berkoperasi (sebagai dampak dari pendidikan), niscaya bisa lebih mudah diajak untuk mengimpun modal dari dalam. Bandingkan dengan koperasi lain seperti KUD, yang pertumbuhannya dirangsang dengan berbagai fasilitas. Perkembangannya seperti balon, yang cepat membesar tapi kemudian meletus berantasan, terutama setelah aliran fasilitas dihentikan.

    Di gerakan kopdit, malah terpancang prinsip: dimulai dari pendidikan, dikelola dengan pendidikan dan dikembangkan oleh pendidikan. So, pendidikan dalam koperasi, mestinya memang bersifat perennial, berlangsung sepanjang hayat. (Yannes Sipahutar)

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post