• Komoditi Rumput Laut


    Bangsa China sejak dahulu kala telah dikenal sebagai bangsa yang kaya dengan pengolahan sejumlah sumber daya alam. Sekitar tahun 2700 sebelum masehi, diketahui bangsa China telah melakukan pengolahan terhadap rumput laut. Hasil pengolahan rumput laut itu ada yang digunakan sebagai bahan sayuran dan juga sebahai bahan dasar obat-obatan.

    Di belahan dunia lain, bangsa Romawi juga telah diketahui menggunakan rumput laut sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik. Dan seiring perkembangan jaman, ilmu pengetahuan, serta teknologi, bangsa Spanyol, Perancis dan Inggris menggunakan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas. Demikian juga bangsa Irlandia, Norwegia dan Scotlandia, mengolah rumput laut sebagai sumber pupuk tanaman.

    Melihat begitu besar manfaat dan kegunaannya, tidak salah jika rumput laut sebagai komoditas perdagangan yang memiliki prospeknya makin cerah, baik untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun kebutuhan ekspor. Dalam mengoptimalkan pemanfaatan potensi rumput laut, maka pengembangan industri pengolahan rumput laut merupakan salah satu alternatif yang perlu diwujudkan.

    Di Indonesia, perkembangan industri pengolahan rumput laut sesungguhnya telah cukup lama diketahui. Sekitar tahun 1930, rumput laut telah diketahui masyarakat di Indonesia sebagai bahan pangan dalam pembuatan agar-agar. Kemudian sekitar tahun 1989, dikembangkan industri keragenan dan selanjutnya pada 1993 berkembang menjadi industri alginat.

    Jadi, saat ini rumput laut telah dimanfaatkan di seleuruh dunia sebagai bahan baku industri agar-agar, keragenan, alginat, dan furselaran. Produk hasil ekstraksi rumput laut itu banyak digunakan sebagai bahan pangan, bahan tambahan, atau bahan pembantu dalam industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kertas, cat, dan lain-lain. Selain itu rumput laut juga digunakan sebagai pupuk dan komponen pakan ternak atau ikan. Rumput laut bisa dijadikan sebagai komoditi unggulan bagi Indonesia. Pasarnya masih sangat potensial. Menurut data dari Ditjen Perikanan, saat ini hasil budidaya rumput laut Indonesia berada di posisi tiga dunia setelah Philipina dan China. Sedang untuk hasil produksi agar-agar, Indonesia menempati posisi kedua setelah Chilie.

    Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Sulawesi Selatan, rumput laut saat ini termasuk satu dari 10 komoditas ekspor yang menjadi primadona. Diketahui pada tahun 2005, sebanyak 23.648 ton rumput laut diekspor ke berbagai negara dengan nilai ekspor mencapai US$ 4,5 juta. Selain diekspor, sebagian produksi rumput laut digunakan untuk memenuhi permintaan industri dalam negeri. Sejumlah negara seperti China, Singapura, dan beberapa negara di Eropa, menjadi tujuan ekspor rumput laut asal Sulsel. Tingginya permintaan ekspor ini jauh melebihi produksi rumput laut Sulsel. Pada 2005 produksi rumput laut Sulsel baru mencapai 50.000 ton.

    Sebagai agro based industri, sebenarnya industri pengolahan rumput laut di Indonesia punya prospek bagus, karena tersedianya sumber bahan baku yang melimpah, sumberdaya manusia, dan teknologi serta peluang pasarnya cukup besar baik di dalam negeri maupun untuk ekspor. Namun, mewujudkan industri pengolahan rumput laut sebagai agro based industri, bukanlah pekerjaan yang mudah. Diutamakan syarat, yakni terjalinnya sinergi yang baik antara faktor-faktor terkait, dan yang terpenting adalah adanya dukungan dan kebijakan pemerintah yang berpihak pada petani rumput laut.

    Bisnis Ramah Lingkungan
    Rumput laut merupakan salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di wilayah pesisir dan laut. Dalam bahasa Inggris, rumput laut diartikan sebagai seaweed. Sumberdaya ini biasanya dapat ditemui di perairan yang berasosiasi dengan keberadaan ekosistem terumbu karang. Rumput laut alam biasanya dapat hidup di atas substrat pasir dan karang mati.

    Beberapa daerah pantai di bagian selatan Jawa dan pantai barat Sumatera, rumput laut banyak ditemui hidup di atas karang-karang terjal yang melindungi pantai dari deburan mbak. Di pantai selatan Jawa Barat dan Banten misalnya, rumput laut dapat ditemui di sekitar pantai Santolo dan Sayang Heulang di Kabupaten Garut atau di daerah Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Sementara di daerah pantai barat Sumatera, rumput laut dapat ditemui di pesisir barat Provinsi Lampung sampai pesisir Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam.

    Selain hidup bebas di alam, beberapa jenis rumput laut juga banyak dibudidayakan oleh sebagian masyarakat pesisir Indonesia. Contoh jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan diantaranya adalah euchema cottonii dan gracelaria sp. Beberapa daerah dan pulau di Indonesia yang masyarakat pesisirnya banyak melakukan usaha budidaya rumput laut ini, diantaranya berada di wilayah pesisir Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi Kepulauan Riau, Pulau Lombok, Sulawesi, Maluku dan Papua.

    Di seluruh dunia, terdapat lebih kurang 12 pembahagian utama, mengandungi lebih kurang 65 spesis rumput laut. Ia biasanya dijumpai di kawasan teluk, muara dan perairan pantai mulai daripada tengah kawasan pasang surut (cetek) hinggalah ke kawasan kedalaman 50 atau 60 meter. Kebanyakan spesis ditemui di kawasan persisiran pantai yang cetek.

    Rumput laut hidup dalam semua jenis substrat dari selut ke batu. Hamparan rumput laut yang luas amnya terdapat pada substrat seperti selut dan pasir. Rumput laut meliputi kawasan perairan pantai dari kawasan iklim tropikal (panas) ke kawasan iklim temperat (sejuk). Bilangan spesis adalah lebih besar di kawasan tropik. Hanya dua spesis, Halophila ovalis dan Syringodium isoetifolium, dijumpai di kedua dua kawasan iklim.

    Dari jumlah 65 spesis rumput laut yang sekarang ini terdapat di seluruh dunia, lebih dari 30 spesis dapat ditemui dalam perairan Australia, 8 spesis dalam perairan Filipina dan 13 spesis dalam perairan Malaysia. Komuniti rumput laut yang paling besar kepelbagaiannya adalah di bahagian timur laut Queensland, Australia dan merupakan bahagian flora yang penting di kawasan Great Barrier Reef.

    Upaya pengembangan budidaya rumput laut di masa mendatang, haruslah terus menerus memperhatikan daya dukung lingkungan. Bukan sekedar mengejar nilai ekonomi semata, yang akhirnya malah menjauhkan dari tujuan awal. Selain dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, budidaya rumput laut juga memberikan dampak positif bagi pelestarian terumbu karang. Seperti yang dilakukan petani di wilayah Bali Barat dan Sulawesi Selatan, budidaya rumput laut ternyata berhasil mengurangi kerusakan terumbu karang.

    Namun, kenyataan di Sulawesi Selatan dan Bali, itu sungguh kontras dengan yang terjadi pada daerah lain di Kawasan Timur Indonesia. Di Flores, Malaku, dan daerah sekitarnya, gairah warga setempat yang dulu begitu tinggi membudidayakan rumput laut kini merosot lagi. Persoalannya, pertama, usaha budidaya tersebut tidak didukung dengan pemasaran yang terpadu. Setiap hari, mereka selalu berhadapan dengan tengkulak yang cenderung menekan harga dengan dalil biaya pengangkutan kapal yang mahal dari Flores ke Surabaya.

    Hal itu terjadi karena industri pengolahan, baik setengah jadi dan jadi hanya beroperasi di Pulau Jawa. Akibatnya, harga rumput laut kering berkualitas terbaik di tingkat pembudidaya di Flores, Maluku dan sekitarnya masih rendah, yakni hanya berkisar Rp 3.000-Rp 3.500 per kilogram.

    Kedua, kurangnya penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas. Padahal, setiap bibit hanya boleh dipakai paling banyak empat kali musim tanam secara berturut-turut. Setelah itu harus diganti dengan bibit baru. Langkah tersebut adalah bagian dari upaya menjaga stabilitas mutu produksi. Artinya, pengalokasian dana untuk usaha perikanan seharusnya didasarkan potensi yang dimiliki daerah itu. Semakin banyak potensi, makin besar pula dana yang dialokasikan.

    Ketiga, tidak adanya tenaga penyuluh yang khusus menangani rumput laut. Lalu, keempat, belum adanya tata ruang yang membagi lokasi untuk usaha pembudidayaan.
    Dari keempat masalah itu, pemasaran menjadi persoalan paling serius. Di sini tugas pemerintah mendorong pendirian industri pengolahan rumput laut di sekitar lokasi produksi. Manfaat yang bisa dipetik, antara lain memutuskan mata rantai tengkulak dan meningkatkan harga di tingkat pembudidaya. Bahkan, pembudidaya takkan lagi dibebankan biaya transportasi. Lebih penting lagi, pembudidaya akan mengetahui secara transparan kualitas rumput laut seperti apa yang diinginkan industri. Di samping itu, kehadiran industri pengolahan di luar Pulau Jawa merupakan bagian dari pemerataan dan keadilan pembangunan nasional.

    Pangan Lezat Penuh Khasiat
    Trend gaya hidup sehat dengan pola makan tinggi serat semakin membudaya. Karenanya, banyak masyarakat yang berlomba-lomba memburu rumput laut. Sebab diketahui, rumput laut kaya dengan serat dan khasiat. Beragam hasil olah rumput laut dapat dijumpai di pasaran, mulai dari yang kering, bubuk maupun yang segar.

    Beberapa produk rumput laut yang popular diantaranya, Nori, dibuat dari rumput laut yang dihaluskan. bubur rumput laut ini kemudian dihamparkan dengan ketebalan yang sangat tipis. Proses selanjutnya dikeringkan sehingga bentuknya lembaran menyerupai kertas. Nori banyak digunakan pada masakan Jepang, mulai dari pembungkus sushi, udang gulung atau rollade goreng. Pilih nori yang lentur, kering dan warnanya hitam mengkilat.

    Kombu dan Wakame Sejenis ganggang laut yang dikeringkan. Kombu adalah bahan dasar membuat kaldu pada masakan Jepang. Setelah direbus kuahnya untuk kaldu dan kombunya digunakan untuk isi soup, salad atau tumisan. Sedangkan wakame, bentuknya hampir menyerupai kombu, biasanya digunakan untuk campuran salad, isi soup atau campuran mie. jangan merebus wakame lebih dari satu menit untuk mendapatkan citarasa yang maksimal.

    Manisan Rumput Laut Diperoleh dari rumput laut segar, kemudian dicuci, direbus dan diolah dengan larutan gula sebagai pengawetnya. Citarasanya menyegarkan dan teksturnya kenyal juga renyah, sangat cocok untuk campuran es, pudding dan aneka dessert.

    Agar-agar, dalam proses membuat produk yang satu ini ternyata melalui tahapan yang sangat panjang. Tahap pertama pemilihan jenis rumput laut yang akan digunakan, yaitu jenis gracilaria sp atau gelidium sp. Slanjutnya proses pemecahan dinding sel, pemasakan(ekstrasi) sampai pada pengeringan. Dipasaran banyak dijumpai agar-agar dalam aneka bentuk, baik yang batangan maupun serbuk.

    Gizi dan Manfaatnya
    Banyak penelitian yang membuktikan bahwa rumput laut adalah bahan pangan berkhasiat. Beberapa diantaranya, antikanker. Penelitian Harvard School of Public Health di Amerika mengungkap, wanita premenopause di Jepang berpeluang tiga kali lebih kecil terkena kanker payudara dibandingkan wanita Amerika. Hal ini disebabkan pola makan wanita Jepang yang selalu menambahkan rumput laut di dalam menu mereka.

    Antioksidan Klorofil pada gangang laut hijau dapat berfungsi sebagai antioksidan. Zat ini membantu membersihkan tubuh dari reaksi radikal bebas yang sangat berbahaya bagi tubuh.

    Mencegah Kardiovaskular, para ilmuwan Jepang mengungkap, ekstrak rumput laut dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Bagi pengidap stroke, mengkonsumsi rumput laut juga sangat dianjurkan karena dapat menyerap kelebihan garam pada tubuh.

    Makanan diet kandungan serat (dietary fiber) pada rumput laut sangat tinggi. Serat ini bersifat mengenyangkan dan memperlancar proses metabolisme tubuh sehingga sangat baik dikonsumsi penderita obesitas. Karbohidratnya juga sukar dicerna sehingga Anda akan merasa kenyang lebih lama tanpa takut kegemukan.

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post