• Berita dan Cara Menuliskannya

    DUNIA sejatinya jadi amat sunyi jika tanpa berita. Ketika aliran berita tersumbat, kegelapan dan rasa cemas pun akan datang. John McCain, senator Amerika Serikat dari Arizona, menulis dalam biografinya bahwa dalam masa 5,5 tahun menjadi tawanan perang di Vietnam, yang paling ia rindukan bukanlah hiburan, makanan, bahkan keluarga dan teman. “Hal yang paling saya rindukan adalah informasi—bebas sensor, tak terdistorsi, dan jumlahnya berlimpah.” Kita membutuhkan berita untuk menjalani hidup kita, untuk melindungi diri kita, menjalin ikatan satu dengan lainnya, mengenali teman dan musuh, dan lain-lain.

    Itu hanyalah gambaran selintas, betapa pentingnya peranan berita dalam kehidupan sehari-hari. Entah berita itu disampaikan lewat media cetak, radio, televisi, internet, mulut ke mulut, dan berbagai sarana lain, yang pada intinya, berita merupakan salah satu bagian dasar kebutuhan hidup manusia. Namun di sini, saya hanya akan membahas berita yang disampaikan lewat media cetak.

    Saat ini, persaingan media demikian dahsyatnya. Pada awal reformasi, ratusan media cetak dan media on-line bermunculan. Tapi pada perkembangannya, hanya beberapa media saja yang bisa bertahan. Kendati tak ada lagi pembredelan dari pemerintah, tapi mereka justru dibredel sendiri oleh pembacanya, alias ditinggalkan. Mereka terseleksi secara alamiah.

    Jika diamati, media hanya bisa hidup dari jualan berita (kecuali penerbitan yang pendanaannya disokong penuh oleh anggaran pemerintah atau perusahaan swasta secara rutin). Berita yang akurat dan berdasarkan fakta—tanpa mencampur-adukkan dengan opini—akan mendatangkan kepercayaan dari pembaca. Jika pembacanya banyak, secara otomatis, akan mengundang perusahaan untuk beriklan—pada giliriannya dapat menghidupi karyawan pers. Karena itulah, menampilkan berita yang kredibel dan terpercaya, menjadi senjata utama banyak media yang masih berkibar.

    Kriteria Berita
    Tentu tidak semua peristiwa dapat menjadi berita di surat kabar atau majalah. Tidak semua kejadian di pengadilan bisa ditulis sebagai berita hukum. Tidak setiap pentas musik menarik diresensi atau diulas. Tidak setiap kecelakaan sepeda motor layak diberitakan, dan sebagainya.
    Untuk majalah atau surat kabar umum, biasanya mereka memiliki kriteria tersendiri tentang apa yang disebut berita. Majalah Gatra dan Tempo—dua majalah berita yang mampu bertahan dari gelombang deras berita televisi—dimana saya (pernah) terlibat di dalamnya, amat ketat menyeleksi berita apa yang bisa masuk di dalam edisinya. Ini bisa dipahami, karena sebagai media mingguan, tentu akan dicampakkan begitu saja oleh pembacanya, seandainya hanya memuat berita di permukaan saja, atau yang sudah diwartakan media harian, internet, dan televisi.

    Karena itulah, ada kriteria yang cukup ketat. Masing-masing media mempunyai kebijakan tersendiri. Namun, antara satu media dengan lainnya—khususnya media berita umum—tidak jauh berbeda. Kriteria tersebut, antara lain memenuhi unsur: kehangatan (aktual); dramatik; tokoh; unik; pertama kali; magnitudenya besar; dan memiliki kedekatan emosional (nanti akan saya terangkan beberapa kriteria tersebut).

    Walaupun sebuah peristiwa sudah memenuhi satu atau beberapa unsur tersebut di atas, tidak secara otomatis bisa langsung dimuat. Ia harus lolos seleksi lewat perdebatan dalam sidang redaksi. Penyeleksian dilakukan, mengingat jumlah halaman yang amat terbatas.
    Secara umum, ada dua jenis berita, yakni: ‘interpreted news’ atau berita yang ditafsirkan, memuat fakta dengan interpretasi (penafsiran saja), dan ‘opiniated news’ atau berita yang mengandung opini. Disini, antara fakta dicampur-adukkan dengan opini, tanpa jelas batasannya. Namun pada umumnya, wartawan menerapkan jenis interpreted news. Fakta dan interpretasi dalam penulisan berita diperbolehkan. Sedangkan opini si penulis berita (wartawan) ditolak sama sekali.

    Itulah prinsip pemisahan fakta dari opini dalam berita. Contoh: Fulan, pejabat bank diajukan ke persidangan (fakta). Fulan diseret ke kursi terdakwa karena menerima uang sogok dari nasabah (interpretasi). Diadilinya Fulan dapat disetujui penuh oleh semua kalangan masyarakat (opini).
    Sebagai informasi tambahan, dalam dunia pers juga ada istilah ‘jurnalisme alkohol’. Artinya, jurnalisme yang tidak berdasarkan kebenaran tetapi hanya isapan jempol. Ada pula istilah ‘jurnalisme kuning’, yakni surat kabar, tabloid, atau majalah yang dengan sengaja dan terang-terangan mengeksploitasi sesuatu untuk merebut perhatian dan minat pembaca dengan muslihat yang membangkitkan emosi tanpa disertai fakta.

    Kemudian, ada jurnalisme partisan dan jurnalisme liberal. Partisan adalah mendukung suatu kelompok, partai, atau instansi tertentu. Jurnalisme partisan melahirkan pers opini. Sementara jurnalisme liberal, berarti bebas (dulu ada istilah bebas bertanggung jawab). Berpihak pada kebenaran dan fakta. Bisa membedakan berita yang menyangkut hak privasi seseorang dan kepentingan umum. Sebagai pers yang baik, tentunya mereka bisa mempertanggung jawabkan apa yang di­tulisnya.

    Pada akhirnya, menulis atau menyampaikan berita adalah sebuah laku moral. Sebuah fakta yang salah atau sengaja disembunyikan oleh wartawan dalam penulisan, akan berakibat fatal bagi seseorang, kelompok, institusi, atau masyarakat. Karena itu, integritas seorang wartawan amat diperlukan. Ia tak boleh sembarangan melemparkan ‘peluru’ penanya dalam bentuk tulisan.

    Cara Penulisan
    Mantan Pemimpin Redaksi Tempo, Goenawan Mohamad, dalam pelatihan penulisan internal pernah bilang, belajar menulis diibaratkan seperti belajar naik sepeda. Pada dasarnya setiap orang bisa menulis, tak perlu bakat, asal mau latihan pasti bisa. Lama kelamaan, ketrampilan itu akan terasah dan lancar dengan sendirinya. Karena prinsip itulah, maka beberapa media tidak mensyaratkan perekrutan wartawannya harus lulusan sekolah jurnalistik.

    Penulis atau wartawan yang baik harus menguasai bahasa. Karena menulis ada­lah keterampilan mendasar dari wartawan, maka ia harus mampu memilah dan memperlakukan kata-kata dengan tepat dan bagus. Wartawan yang baik memiliki perbendaharaan kata yang luas dan menggunakan kata-kata yang jitu maknanya, bukan cuma perkiraan.

    Tiap berita terdiri dari dua bagian, yaitu teras berita (lead) dan tubuh berita (body). Lead mengintisarikan berita dan mempunyai fungsi: menjawab rumus 5W+1H (who, what, where, when, why, + how). Lead juga memberikan identifikasi cepat tentang orang, tempat dan kejadian yang dibutuhkan bagi pemahaman cepat berita tersebut.

    Dalam menulis berita, yang diutamakan adalah pengaturan fakta-fakta, tapi dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ‘mengisahkan sebuah berita’. Memang itulah kunci perbedaan antara berita ‘keras’ (hard news) dan tulisan feature. Biasa­nya, wartawan surat kabar menuliskan beritanya dalam bentuk hard news, sementara majalah, lebih suka bergaya feature. Ini bisa dipahami, karena koran harian dituntut kecepatan. Mereka menempatkan informasi pokok atau yang penting, pada bagian atas tulisan. Bentuk ini biasa disebut ‘piramida terbalik’.

    Pada ‘piramida terbalik’, bahan tulisan (informasi) disusun sedemikian rupa sehingga pembaca memperoleh bagian terpentingnya segera pada awal tulisan. Materi disusun sesuai dengan urutan pentingnya: informasi makin ke bawah makin kurang penting. Bentuk berita semacam ini memudahkan para editor memotong naskah berita, jika terlalu panjang. Orang yang sedang sibuk atau terburu-buru, paling senang membaca berita model piramida terbalik ini. Mereka hanya butuh poin yang penting-penting saja di bagian atas, dan informasi lain yang kurang penting, bisa dibaca kemudian setelah senggang.

    Tulisan feature, sebenarnya juga berbentuk piramida terbalik, tapi ada satu tambahan: ending, atau penutup tulisan. Ending bukan proses yang tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan proses di atasnya yang mengalir. Karena itu, memotong bagian akhir sebuah feature, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.

    Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Ia melukiskan gambar dengan kata-kata; ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Kunci untuk penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead. Mencoba menangkap minat pemabca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. Lead untuk feature mempunyai dua tujuan utama: menarik pembaca untuk mengikuti cerita, dan membuat jalan supaya alur cerita lancar.

    Untuk menulis, harus terlebih dahulu memiliki fokus. Anggaplah fokus ini sebagai tali berbandul timah (unting-unting), yang biasa dipakai para tukang bangunan untuk mengukur tegak lurusnya tembok. Dalam menulis cerita, setiap potong informasi harus menyentuh unting-unting itu. Kalau unting-untingnya tidak tegak lurus benar, bangunan akan miring. Bila si tukang (reporter) tidak memasang setiap batu bata (unsur cerita) menurut unting-unting, maka bangunan itu akan runtuh.

    Fokus cerita didapat, setelah penulis menentukan angle (sudut penulisan) cerita, se­hingga ia dengan mudah bisa mengelola bahan yang diperlukan untuk mengutarakan cerita itu. Pegang teguh angle cerita itu dengan menghapuskan bagian yang tidak berhubungan langsung dengan angle-nya, ataupun tidak membantu mencapai sasaran.

    Agar enak dibaca, taburkanlah tulisan itu dengan deskripsi. Dalam beberapa hal, televisi menang terhadap media cetak karena media elektronik ini bisa menggambarkan bentuk fisik orang atau barang dengan jelas di layar monitor. Tapi, dalam beberapa hal, penulis yang baik bisa mengubah kelemahan media cetak ini menjadi kemenangan. Yaitu dengan penulisan deskriptif. Gambaran yang ditangkap kamera hanya dangkal dan satu dimensi. Kelemahan TV adalah bahwa ia sangat terikat waktu yang sangat berharga, sehingga reporter TV tak sempat lagi memperoleh gambaran yang mendalam. Kalaupun liputan panjang, kehadiran kamera TV akan mengurangi suasana yang wajar dan realistis.

    Untuk mengumpulkan bahan guna melukiskan sesuatu, reporter bisa berjam-jam, berhari-hari, atau berminggu-minggu bergaul dengan subjeknya, yang bilia diramu bisa menciptakan citra yang bisa diraba pembaca.

    Agar tulisan kita tidak membosankan, berilah kutipan-kutipan kalimat langsung yang segar dan menarik. Penulis novel memakai dialog untuk menghentikan kejemuan. Setelah dengan cermat menciptakan perwatakan, penulis berusaha membuat tokohnya ‘bicara’ dalam gaya yang khas, yang cocok dengan pribadi dan latar belakang tokoh itu sendiri. Pemakaian kutipan—baik dialog maupun monolog—memberikan selingan dan variasi dalam cerita dan memberikan wawasan tentang si tokoh.

    Sebagai penutup, saya ingin menyarankan, untuk memulai sebuah tulisan (cerita) buatlah outline. Jika tidak ada outline, penulis sering tergelincir keluar dari fokus. Akibat lain tidak adanya outline ialah kacaunya urutan cerita. Suatu bagian cerita yang belum selesai menguraikan soal A, tiba-tiba disusul dengan bagian cerita yang menguraikan soal C, misalnya. Pembaca bisa bingung, bukan?
    Pengulangan yang tak perlu juga bisa terjadi karena kita menulis tanpa outline. Misalnya, di bagian awal naskah kita, kita sudah menguraikan soal H, tetapi setelah beberapa halaman ketik berikutnya kita—karena lupa—menguraikan hal yang sama.

    Pada intinya, kita harus berani mencoba dan belajar terus menerus. Mulailah de­ngan tulisan-tulisan ringan di sekitar kita. Bisa tentang kebiasaan tetangga, situasi kantor, suasana keramaian di sekitar rumah, dan lain-lain. Dari kesalahan kita belajar. Pada awalnya memang tertatih-tatih, tapi bila dicoba untuk ‘berjalan’ terus menerus, maka dengan sendirinya—tanpa terasa—akan lancar. Kembali lagi pada kutipan awal, bahwa belajar menulis tak ubahnya seperti belajar naik sepeda. Lama kelamaan, akan menemukan dengan sendirinya cara yang pas. Selamat mencoba!

    Oleh Aries Margono

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Bookmark and Share

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post