• Buah Pala - Buah Duka Banda Neira

    Majid Hamidi Nanlohy
    Buah pala (Myristica Fragrans Houtt), banyak dikenal sebagai pelengkap bumbu masakan, manisan, sirup, jus, minyak pala, parfum dan kosmetik. Selain itu, keharuman buah ini juga berkhasiat bagi kesehatan. Karena buah pala mengandung zat kimia yang mampu mengatasi masalah insomnia, batuk berlendir, membantu pencernaan, penghilang kejang otot dan lain-lain.

    Tanaman pala ini merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari Kepulauan Banda dan Maluku. Tanaman ini menyebar di Pulau Jawa, karena pada perjalanan menuju Tiongkok pada tahun 1271 sampai 1295, dimana Marcopollo sempat melewati pulau tersebut. Selanjutnya proses pembudidayaan tanaman ini juga sampai ke wilayah Sumatera.

    Pala merupakan jenis buah yang berasal dari keluarga Myristicaceace, dengan ketinggian pohon yang mampu mencapai sekitar 15 meter. Pada musim buah, akan muncul bunga di setiap ujung ranting yang kemudian akan menjadi buah yang bergerombol dan berwarna hijau kekuning-kuningan. Struktur buah pala sendiri terdiri dari daging buah yang bentuknya tebal dan berwarna keputihan (77,8 persen), lalu ada fuli yang berbentuk selaput tipis kemerahan yang menyelimuti biji pala (4 persen), tempurung (5,1 persen) dan biji (13,1 persen).

    Kulit dan daging buah pala mengandung minyak atsiri dan zat samak, bunga pala mengandung minyak atsiri, zat samak dan zat pati, bijinya juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sangat tinggi, saponin, miristisin, elemisi, enzim lipase, pektin, lemonena dan asam oleanolat. Biji pala dan fuli (mace) memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena dapat dijadikan minyak pala. Sementara daging buah pala dapat digunakan untuk proses pengolahan pembuatan manisan pala, asinan pala, dodol pala, selai pala dan sirup pala.

    Mengingat banyaknya manfaat yang terkandung dalam buah pala, mungkin wajar kiranya jika buah yang rasanya campuran dari rasa manis, asam dan pedas ini pernah membuat penjajah di Kepulauan Banda Neira menjadi kehilangan akal sehatnya. Memang buah pala merupakan buah yang tumbuh asli di kepulauan Banda Neira.

    Pada tahun 1621, pihak Belanda melalui gubernur kolonial Jan Pieterszoon Coen dengan tega mengeluarkan perintah pembantaian terhadap penduduk tak berdosa tersebut. Hanya karena para pribumi ini menolak bekerja sama dengan penjajah tersebut.

    Memang saat itu di Banda Neira tidak memiliki sentralisasi kekuasaan, sehingga pihak Portugis gagal menancapkan kekuatan militer. Serta mampu menghambat para pedagang Belanda memonopoli rempah. Kuat dugaan, kondisi tersebut yang justru membuat para pedagang Belanda akhirnya merekayasa pihak Veerenigde Oost Indische Compagnie (VOC) untuk melakukan pembantaian terhadap penduduk Banda Neira pada abad ke-17.

    Akibatnya dari sekitar 15 ribu penduduk Banda Neira, hanya ratusan orang saja yang berhasil melarikan diri ke Kepulauan Tanimbar di selatan. Meski pada abad ke-18 dominasi perdagangan pala oleh Belanda ini akhirnya mampu dipatahkan Perancis, ketika negara tersebut berhasil menyelundupkan pala dari Banda Neira.

    Sebenarnya, buah pala sendiri baru di kenal di Eropa pada abad ke-11 dari para pedagang Arab. Hanya saja pala yang ada di Eropa saat itu bukan lagi berasal dari Banda Neira, melainkan dari Grenada. Pala mulanya dipergunakan untuk menambah rasa pada bir. Lalu juga untuk penyedap kue, biskuit, buah campur, campuran kuah keju (fondue), saus masakan dan sayuran. Masakan-masakan dari berbagai negara di dunia seperti Belanda, Timur Tengah, India, Laut Karibia dan Perancis menggunakan buah pala sebagai bahan campuran masakannya.

    Indonesia saat ini merupakan negara pengekspor biji dan fuli pala terbesar, yang mengisi sekitar 60 persen kebutuhan pasar dunia. Sementara sisanya diisi negara-negara lain seperti Grenada, India, Srilanka dan Papua New Guinea. Data Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2000 mencatat, produksi pala Indonesia pada tahun 2000 sebesar 19,95 ribu ton. Produksi pala selama ini relatif stabil dan cenderung meningkat sejak tahun 1994, dengan total produksi berkisar antara 19,00 ribu sampai 19,95 ribu ton per tahun.

    Dalam kegiatan usaha di Indonesia, khususnya industri rumah tangga, pala termasuk jenis usaha yang menjanjikan. Contohnya pada proses pengolahan daging buah pala menjadi manisan pala. Seharusnya memang pemberdayaan jenis usaha kecil ini memang lebih digalakkan. Sehingga dikemudian hari produk tersebut juga dapat menjadi salah satu komoditi ekspor tanah air.

    Hanya saja tidak dapat dipungkiri, upaya pengembangan usaha kecil seperti ini memang terkadang terbentur dengan berbagai kendala. Salah satunya dalam segi permodalan, dimana pihak pemilik usaha kecil terkadang kesulitan dalam menembus akses pembiayaan perbankan. Persyaratan yang diajukan pihak bank seperti jaminan, perizinan, aspek pemasaran, teknis produksi dan manajemen terkadang memang sulit dipenuhi pengusaha kecil.


    Pala Buah Sehat Berkhasiat
    Telah diketahui selama ini, pala merupakan rempah yang berkhasiat sebagai obat. Hampir seluruh bagian buah pala mengandung senyawa kimia yang bermanfaat untuk kesehatan. Seperti membantu mengobati masuk angin, sulit tidur (insomnia), juga bersifat stomakik yang mampu memperlancar pencernaan dan meningkatkan selera makan, memperlancar buang angin (karminatif), mengatasi rasa mual dan muntah (antiemetik), nyeri haid, rematik dan masih banyak lagi.

    Pada pengobatan tradisional, pala biasanya menjadi bahan campuran untuk ramuan. Misalnya untuk mengatasi muntaber, sebutir pala beserta bunganya, ditambah 5 gram jintan putih, 10 gram jahe dan satu buah delima yang diambil kulitnya kemudian ditumbuk halus. Semua bahan ini lalu dicampur santan kelapa dan minyak kayu putih secukupnya untuk diaduk dan dibalurkan pada perut dan ulu hati.

    Untuk mengatasi rasa pusing pada kepala, diperlukan juga sebanyak 5 gram biji pala, 7 lembar daun sirih dan 7 butir cengkeh yang dihaluskan dan ditambah sedikit air. Lalu tempelkan bahan campuran tersebut pada tengkuk dan ubun-ubun. Sementara pada migrain, cukup digunakan sebanyak 3 gram biji pala, 5 gram lada, 5 butir cengkeh, 5 gram kayu manis dan 15 gram jahe yang telah menjadi bubuk kemudian diseduh dengan air panas, untuk disaring dan diminium dengan teratur.

    Jika anda mengalami sakit pada telinga, cukup diatasi dengan 5 gram biji pala dan sebutir biji mahoni yang ditumbuk halus dan direbus dengan 500 cc air. Ramuan tersebut kemudian disaring dan setelah dingin diteteskan pada telinga sebanyak tiga kali sehari. Atau dapat juga menggunakan alternatif ramuan lain, berupa sebutir buah pala yang ditambah sebanyak 10 gram kencur yang ditumbuk dan diberi sebanyak dua sendok makan air masak. Setelah diperas, airnya diteteskan pada anak telinga sebanyak dua sampai tiga tetes secara teratur tiga hari sekali.

    Selain itu, biji pala juga dapat mengobati kencing manis, perut kembung, sakit perut dan insomnia secara tradisional. Kencing manis dapat diatasi dengan merebus sebanyak 5 gram biji pala, 5 gram biji pinang, 10 gram kulit kapuk dan gula diet secukupnya yang kemudian disaring dan diminum.

    Jika sakit perut, juga cukup merebus sebanyak 5 gram biji pala, 3 butir kapulaga, 5 butir alda, 5 butir cengkeh dan 10 gram jahe pada 400 cc air hingga tersisa sekitar 200 cc saja. Setelah disaring, disarankan meminumnya selagi hangat. Perut yang kembung juga menggunakan sebanyak 5 gram bii pala, 4 butir kapulaga, 5 gram jahe, sebutir bunga lawang dan 50 gram lobak yang direbus dengan air sebanyak 600 cc dan cukup disisakan sebanyak 300 cc saja untuk disaring dan diminum.

    Masalah sulit tidur (insomnia) juga dapat diatasi dengan mencampur sebanyak dua tetes air dengan bubuk biji pala. Ramuan ini ampuh mengatasi gangguan tidur kita, jika dioleskan pada kening. Atau juga dapat menggunakan satu sendok teh biji pala halus yang dicampur segelas susu segar yang direbus, satu sendok teh madu dan setengah sendok teh gula batu. Campur dan aduk ramuan ini, kemudian saring dan minumlah selagi hangat.

    Tiga masalah kesehatan, seperti maag, masuk angin dan cegukan juga dapat disembuhkan dengan satu resep ramuan. Cukup campurkan satu sendok teh pala halus dan dua sendok teh bubuk buah pisang batu yang diberi sebanyak 100 ml air hangat. Kemudian minum dan telan juga ampasnya saat masih hangat. Kehangatan pala juga dapat dijadikan produk sabun dan balsam yang berguna bagi penderita rematik.

    Sementara jika anda berprofesi sebagai penyayi, penyiar atau master of ceremony (MC), sebaiknya juga perlu menyimpan resep tradisional ini untuk mengatasi masalah suara parau yang mengganggu aktivitas kerja anda. Campur dua sendok makan pala halus, dua sendok makan jahe parut, satu sendok teh cengkeh halus dan tiga tetes minyak kayu putih. Cukup oleskan bahan ramuan tersebut pada bagian leher selama tiga jam. Lakukan secara teratur sampai suara anda kembali jernih seperti sediakala.

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post