• Komoditi Pisang Buah Eksotik Asia

    Majid Nanlohy
    Bicara tentang buah pisang, mungkin tidak akan ada habisnya. Si kuning yang berbentuk melengkung panjang ini sejak dulu menjadi kegemaran hampir setiap orang. Rasanya yang manis dan tekstur buahnya yang lembut tersebut memang sangat menggoda selera. Jangan kan manusia, monyet saja menyukainya. Jadi sangat disayangkan jika ada orang yang tidak gemar menyantap buah pisang. Karena sebenarnya, buah ini mengandung kalium yang cukup banyak sehingga mampu menurunkan tekanan darah, menjaga kesehatan jantung dan memperlancar pengiriman oksigen ke otak.Bukan itu saja, buah ini juga mengandung vitamin A yang sangat tinggi sehingga mampu meningkatkan daya tahan tubuh terhadap ISPA, kulit bersisik dan kebutaan. Menyehatkan tubuh, membantu kehidupan.

    Bahkan saat ini di Jepang, buah pisang sedang sangat digemari karena dipercaya dapat mengurangi berat badan. Jika ingin badan menjadi langsing, maka para warga negara matahari terbit ini melahap sebanyak-banyaknya pisang terutama di pagi hari. Karena konon pisang mengandung banyak vitamin dan mineral, tetapi rendah kalori. Selain juga dapat menghambat pertambahan asam dalam tubuh. Tetapi juga perlu untuk mengimbangi program pemulihan berat badan ini dengan diet, olahraga dan cukup istirahat.

    Pisang merupakan tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Para penyebar agama Islam kemudian membawa buah ini ke Afrika Barat, Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Selanjutnya pisang menyebar ke seluruh dunia, meliputi daerah tropis dan subtropis. Negara-negara penghasil pisang yang terkenal di antaranya adalah Brasilia, Filipina, Panama, Honduras, India, Equador, Thailand, Karibia, Columbia, Mexico, Venezuela, dan Hawai. Indonesia merupakan negara penghasil pisang nomor empat di dunia.

    Keberadaannya, pisang telah dikenal dan dikonsumsi sejak zaman dahulu kala. Pisang dalam bahasa latin disebut Musa Paradisiacal. Kata ini berasal dari bahasa Arab, yaitu maus yang oleh Linneus dimasukkan ke dalam keluarga Musaceae, untuk memberikan penghargaan kepada Antonius Musa, yaitu seorang dokter pribadi kaisar Romawi (Octaviani Agustinus) yang menganjurkan untuk memakan pisang. Sementara di dunia, umumnya pisang dikenal dalam bahasa Inggris, yakni banana. Tetapi di Indonesia sendiri, selain pisang, ternyata ada nama-nama lain juga sesuai daerah masing-masing. Seperti di Jawa Barat disebut Cau, sementara Jawa Tengah dan Jawa Timur menyebutnya dengan sebutan gedang.

    Pisang merupakan buah yang tidak dapat dipisahkan dari ritual adat masyarakat kita. Pada pesta adat pernikahan, pisang dan batangnya digunakan untuk menghias pelaminan pengantin. Pisang juga digunakan sebagai sesaji bagi ritual adat kuno leluhur yang masih berkembang di tanah air. Salah satunya ritual pesta pisang di Desa Grajagan. Ritual pesta pisang kelompok nelayan di Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi ternyata punya tradisi unik, yakni menggelar nyekar dan pesta pisang di makam kuno. Ritual yang digelar malam Jumat legi menjelang bulan Poso (Ramadhan) dalam penanggalan Jawa yang dianggap sebagai hari keramat dalam filosofi Jawa Kuno. Tradisi menurun ini dilakukan nelayan untuk memohon berkah kepada penguasa laut serta meminta restu dari leluhur desa mereka yakni Mbah Karso Wono Samudro, Mbah Ratih dan Mbah Sapi’i Rekso Samudro. Dimana makam mereka berada di atas bukit yang menghadap laut selatan.

    Indonesia termasuk penghasil pisang terbesar di Asia yang menyumbang sekitar 50 persen produksi pisang Asia Sentra produksi pisang di Indonesia adalah Jawa Barat (Sukabumi, Cianjur, Bogor, Purwakarta, Serang), Jawa Tengah (Demak, Pati, Banyumas, Sidorejo, Kesugihan, Kutosari, Pringsurat, Pemalang), Jawa Timur (Banyuwangi, Malang), Sumatera Utara (Padangsidempuan, Natal, Samosir, Tarutung), Sumatera Barat (Sungyang, Baso, Pasaman), Sumatera Selatan (Tebing Tinggi, OKI, OKU, Baturaja), Lampung (Kayu Agung, Metro), Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara Barat.

    Jika menilik mengenai jenisnya, pisang terbagi menjadi tiga, yakni pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var Sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis. Misalnya pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan dan mas. Kemudian ada pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca formatypica atau disebut juga M. paradisiaca normalis. Misalnya pisang nangka, tanduk dan kepok. Lalu ada juga pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya misalnya pisang batu dan klutuk yang kadang juga dapat dijadikan bahan rujak tumbuk. Dan yang terakhir pisang yang diambil seratnya misalnya pisang manila (abaca).

    Manfaat buah pisang juga sangat banyak. Buah yang sangat bergizi ini jelas merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia. Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia. Air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun bagi metode pengobatan tradisional.

    Waspada Hama dan Penyakit
    Selama ini Indonesia dikenal sebagai pemasok pisang ke negara Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Iklim Indonesia cukup bersahabat untuk proses pertumbuhan pohon pisang. Karena syarat pertumbuhan pohon pisang antara lain, memiliki iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan.

    Selain itu, harus diwaspadai jenis angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Sementara curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak tergenang. Dan yang gawat juga perlu diperhatikan jenis hama dan penyakit pengganggu pisan. Seperti hama ulat daun (Erienota thrax.) dimana bagian yang diserang adalah daun. Gejalanya berupa daun yang menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun. Pengendaliannya dengan menggunakan insektisida yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.

    Uret kumbang (Cosmopolites sordidus) yang gemar menyerang bagian kelopak daun, batang. Gejalanya, lorong-lorong keatas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendaliannya berupa sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit yang telah disucihamakan. Selain itu ada Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis), yang menyerang bagian akar. Gejalanya, tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak. Pengendalian dengan menggunakan bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil. Hama ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema) menyerang bagian bunga dan buah. Gejalanya, pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang dapat diberantas menggunakan insektisida.

    Penyakit-penyakit yang menyerang pisang berupa, penyakit darah yang disebabkan Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman bagian dalam. Gejalanya jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah.

    Pengendalian dilakukan dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit. Penyakit Panama yang disebabkan jamur Fusarium oxysporum menyerang bagian daun dengan gejala daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam. Dapat dikendalikan dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

    Penyakit bintik daun juga ditemukan pada pisang akibat jamur Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan gejala bintik sawo matang yang makin meluas. Pengendalian dengan menggunakan fungisida yang mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux (BB). Penyakit layu dari bakteri Bacillus menyerang bagian akar dengan gejala tanaman layu dan mati. Pengendaliannya dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit. Penyakit daun pucuk akibat virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa juga menyerang daun pucuk. Gejalanya daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok. Pengendaliannya juga dengan cara membongkar dan membakar tanaman yang sakit.

    Setelah tanam kanopi dewasa terbentuk. Pada saat ini gulma akan menjadi persoalan. Penanggulangan dilakukan dengan penggunaan herbisida seperti Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup dan dalapon, menanam tanaman penutup tanah yang dapat menahan erosi, tahan naungan, tidak mudah diserang hama-penyakit, tidak memanjat batang pisang. Misalnya Geophila repens. Selanjutnya dapat juga menutup tanah dengan plastik polietilen.

    Rata-rata pisang pada umur 1 tahun sudah berbuah. Saat panen ditentukan dari umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen berupa mengeringnya daun bendera. Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.

    Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih saat memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah. Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh pergesekan buah dengan tanah. Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali. Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas. Perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.

    Sejauh ini memang belum ada standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28 ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Dan pada perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (> 30 ha), produksi yang ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.

    Pada pola pengemasan secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan terbuka/tertutup. Tetapi untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Dan untuk menghindari pembusukan, luka potongan di ujung sisir buah pisang disucihamakan.

    Perkebunan pisang yang permanen dengan mudah dapat ditemukan di Meksiko, Jamaika, Amerika Tengah, Panama, Kolombia, Ekuador dan Filipina. Di negara tersebut, budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung kultur teknis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan yang memenuhi standard internasional. Permintaan pisang dunia terutama jenis pisang cavendish yang meliputi 80 persen dari permintaan total dunia. Peluang ekspor pisang antara lain dari pisang utuh dan pure pisang yang biasanya terbuat dari pisang Cavendish dengan kadar gula 21 hingga 26 persen atau dari pisang lainnya dengan kadar gula kurang dari 21 persen. Di Indonesia pisang hanya ditanam dalam skala rumah tangga atau kebun yang sangat kecil. Standard internasional perkebunan pisang kecil adalah 10-30 ha. Angka ini belum dicapai di Indonesia, meski tanah dan iklim sangat mendukung. Mestinya perkebunan pisang dapat dikembangkan dan dikelola secara besar-besaran dengan baik di tanah air.

    Tepung Pisang
    Selama ini kita mungkin hanya mengenal buah pisang sebagai salah satu makanan pokok pengganti makanan beras. Sebanyak 230 jenis pisang ada di tanah air kita. Daunnya yang lentur, panjang dan hijau itu dijadikan alat untuk membungkus makanan yang akan dimasak seperti pepes, lemang atau kue-kue yang akan dikukus atau sebagai pembungkus nasi di warung makan dan bunga untuk dijual. Batangnya yang bulat panjang dijadikan media hias untuk acara adapt pesta pernikahan. Serat batang ini juga digunakan sebagai serat untuk bahan pembuatan pakaian. Selain buah, kita juga mengenal cikal bakal buah yakni jantung. Masyarakat kita sangat menggemari jantung pisang ini yang kadang dinikmati dengan cara direbus atau digulai. Rasanya yang lezat dan teksturnya yang mirip daging ini terasa begitu istimewa.

    Tetapi saat ini kita juga sudah mengenal berbagai makanan dan minuman lezat hasil olahan pisang. Kulit pisang yang dulunya cuma jadi sampah kini pun sudah dapat disantap sebagai alternative makanan tambahan karena dapat diolah menjadi selai pisang. Bahkan dapat juga menjadi makanan ternak. Sementara untuk menghindari pembusukan, pisang mentah yang sudah masak harus segera diolah misalnya dalam bentuk gaplek, tepung, pati, sirop glukosa, tape, dan keripik. Buah pisang matang dapat diolah menjadi sale, selai, dodol, sari buah, anggur, pure, saos, nectar, pisang goreng, pisang epe, pisang rebus, kolak, getuk, ledre, pisang panggang keju, serta aneka kue lainnya.

    Saat ini juga sudah dikenal luas tepung pisang sebagai alternatif pengganti tepung terigu. Tepung pisang dibuat dari buah pisang yang masih mentah namun yang sudah cukup tua. Tepung pisang banyak dimanfaatkan sebagai campuran pada pembuatan roti, cake, kue kering, campuran tepung terigu, dan campuran makanan bayi. Pada dasarnya semua jenis buah pisang mentah dapat diolah menjadi tepung, tapi warna tepung yang dihasilkan bervariasi, karena dipengaruhi oleh tingkat ketuaan buah, jenis buah dan cara pengolahan. Buah pisang kepok mempunyai warna tepung yang paling baik, yaitu putih. Karenanya pemilihan buah pisang kepok manurun yang merupakan pisang varietas unggul Kalimantan Selatan sangat tepat dalam pembuatan tepung pisang.

    Teknologi pengolahan tepung pisang yang diintroduksikan adalah penggunaan pengering rak plastik yang lebih efisien dalam proses pengeringan, sehingga sangat efektif untuk menurunkan kadar air tepung pisang yang dihasilkan. Selain itu juga diperkenalkan teknologi perendaman irisan buah pisang dalam larutan asam sitrat sebelum pengeringan yang mampu mencegah reaksi pencoklatan pada irisan buah, sehingga dapat memperbaiki warna tepung pisang yang dihasilkan.

    Dalam proses pembuatannya, pisang dikukus selama 10 menit, dikupas, rendam dalam larutan asam sitrat 0,5 persen, diiris dengan alat khusus lebih kurang setebal 0,2 mm, rendam dalam larutan asam sitrat 0,5 persen selama 30 menit, ditiriskan, dijemur menggunakan rak pengering, kemudian digiling dan selanjutnya diayak agar menjadi tepung. Produk olahan turunan dari tepung pisang beraneka ragam, salah satunya bubur balita. Suatu asupan gizi yang tinggi dapat diberian bagi balita anda dari tepung ini. Selanjutnya juga ada kue-kue kering, mie, dan masih banyak lagi.

    Tetapi jangan mengira bahan pembuatan tepung ini dari pisang bagian buahnya saja, justru saat ini juga dikembangkan proses pembuatan tepung pisang dengan menggunakan kulitnya. Produk yang dihasilkan tidak kalah bagusnya, bahkan dari segi biaya produksi jelas sangat murah. Ini dibuktikan dengan hasil kerja tiga mahasiswa biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya angkatan tahun 2007 setelah melakukan serangkaian penelitian menemukan hasil bahwa kulit pisang juga layak dijadikan bahan pembuatan tepung.

    Salah satu peneliti tersebut, Sulfahri menjelaskan jika kulit pisang memiliki kandungan vitamin C, B, kalsium, protein dan juga lemak..Pada awalnya mereka membuat penganan keripik dari kulit pisang, tetapi akhirnya ide pembuatan tepung pisang muncul dibenak mereka. Bahkan mereka sudah berhasil membuat bolu dari tepung kulit pisang hasil karya mereka itu yang menggunakan antara lain kulit dari pisang pisang raja, karena kulit pisang raja lebih tebal dibandingkan jenis pisang lainnya.

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post