• KSP Kodanua Jakarta

    Inilah koperasi simpan pinjam yang mampu terus merangsek maju, nyaris menembus barikade persaingan perbankan di ibukota. Volume usahanya, Rp 99 miliar per tahun.

    Gedung cukup mentereng yang berdiri di Jalan Pemuda No. 69 itu, menandai langkah maju Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kodanua. Setelah sukses menggarap daerah “pinggiran”, koperasi ini mulai merangsek ke “tengah”, memasuki wilayah yang selama ini menjadi garapan bank.

    Di Jalan Pemuda yang jadi lokasi cabang baru KSP Kodanua itu, sudah berderet kantor cabang sejumlah bank raksasa seperti Bank Mandiri, BCA, BNI, Bank Permata dan Bank Lippo. “Ini memang target yang sudah lama kami pancangkan,” ungkap Ketua KSP Kodanua HR. Soepriyono, bangga.

    Tentu saja, keberadaan gedung bernilai sekitar Rp 1 miliar yang baru dibuka pada Juni 2003 itu, bukan untuk gagah-gagahan. Semuanya sudah berada dalam kerangka strategi pengembangan KSP Kodanua, terutama untuk menjangkau pelayanan kepada anggota dan masyarakat secara lebih luas lagi.

    Dalam lima tahun terakhir, kinerja KSP Kodanua memang makin moncer, dengan kecenderungan terus meningkat. Pada tahun buku 2002, koperasi ini mampu mencetak volume usaha Rp 99 miliar lebih, dengan perolehan sisa hasil usaha (SHU) Rp 1,5 miliar lebih. Sedangkan modal yang berhasil dihim¬pun, sudah lebih dari Rp 9 miliar. Tahun 2003 ini, volume usaha yang dicapai, kemungkinan besar bakal menembus Rp 100 miliar. Sebab, sampai Agustus kemarin saja, angka itu sudah mencapai Rp 88,9 miliar.
    Berkantor pusat di Jl. Prof Dr Latumeten I No. 41 Jakarta Barat, KSP Kodanua gencar melakukan ekspansi dengan membuka cabang pembantu (capem) di banyak tempat, hingga menem¬bus Jakarta, dengan meman¬faatkan kebijakan pemerintah yang men¬cabut batasan wilayah kerja koperasi.

    Di wilayah ibukota saja, terdapat 4 capem. Sedangkan di Jawa Barat, beroperasi 6 capem masing-masing di Bekasi, Bogor dan kawasan Puncak, Karawang, Cikampek serta Sukabumi. Untuk Banten, Kodanua memasang capem di Ciputat, Tangerang dan Serang. Delapan dari seluruh capem itu, menempati gedung milik sendiri, termasuk yang di Jalan Pemuda itu.

    Pertimbangan pembukaan sebuah capem, yang paling utama adalah besarnya potensi bisnis skala kecil di lokasi yang akan dipilih. Sebab, sasaran utama layanan Kodanua adalah pengusaha kecil, yang selama ini memang memiliki kesulitan untuk mengakses ke bank.

    Tapi, bukan berarti kegiatan bisnis Kodanua sama sekali steril dari persaingan dengan bank. “Dari dulu, ketika main di pinggiran, persaingan itu sudah terasa,” ujar Soepriyono. Terlebih sekarang, setelah industri besar banyak yang rontok dihajar krisis, bank mulai banyak yang mengarahkan bidikannya pada pengusaha kecil, melalui kredit retailnya.

    Namun, Kodanua tidak gamang. Berbagai jurus, dipasang untuk memenangkan persaingan. Mulai dari mengoptimalkan berbagai kelebihan sebagai koperasi yang bisa mengikat loyalitas nasabah dari kelompok anggota, menciptakan produk yang menarik, sampai memaksimalkan layanannya.

    Memanfaatkan celah kelemahan bank besar yang cenderung berokratis, Kodanua bisa bergerak gesit dengan menawarkan prosedur cepat, tidak berbelit. Bahkan, seorang nasabah yang sibuk tapi membutuhkan pinjaman cepat, bisa memperoleh kebutuhannya cuma dengan mengangkat telpon. Selebihnya, tinggal menunggu petugas Kodanua datang untuk mengurusnya sampai tuntas.

    Gerak serba cepat itu, tentu saja, didukung oleh manajemen yang oke, dan mampu bekerja secara efisien. Secara periodik, Kodanua mengadakan pendi¬dikan untuk seluruh karyawannya, yang berjumlah 255 orang.

    Di samping anggota yang jumlahnya sebanyak 1.453 orang, Kodanua juga melayani nasabah yang masuk dalam kategori calon anggota, yang tercatat berjumlah 9.459 orang. Calon anggota ini, punya kesempatan untuk menjadi anggota, setelah melalui proses dan memenuhi sederet syarat. Di luar itu, ada juga nasabah yang bukan berasal dari anggota maupun non-anggota. Jumlahnya malah mencapai 11.002 ribu orang (data per Agustus 2003).

    Besarnya jumlah nasabah calon anggota dan masyarakat biasa itu, memang tak terhindarkan. Seiring dengan gerak ekspansi wilayah kerja, nasabah yang dibidik pun jadi makin luas.

    Tapi, tentu saja, layanan kepada anggota, lebih diutamakan. Di samping mendapat prioritas dalam memperoleh pinjaman, Kodanua juga memberikan layanan lain seperti bimbingan admi¬nistrasi keuangan, beasiswa untuk anak-anak mereka, serta —tentu saja— bagian sisa hasil usaha (SHU). KSP Kodanua selalu menggunakan jasa akuntan publik, untuk mengaudit keuangannya.

    Keeratan hubungan Kodanua dengan anggotanya, secara kasat mata bisa dilihat pada penyelenggaraan Rapat Anggota Rahunan (RAT). Acaranya sering digelar di sebuah auditoriaum besar, yang menampung lebih dari seribu orang.

    Embrio KSP Kodanua sebetulnya tak lebih dari kelompok arisan, yang dibentuk pada 1972 oleh para guru di Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat. Setelah berjalan sekitar lima tahun, tepatnya 1977, berkembang ide untuk memformalkan Gurindo menjadi sebuah koperasi simpan pinjam. Dari situ, jadilah KSP Kodanua.

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post