• KSU Setara Kupang-NTT

    Komoditi sapi potong, inilah salah satu unggulan daerah Kupang. Wilayah penghasil sapi potong yang terkenal di kawasan ini, persisnya berlokasi di Kecamatan Amarisi. Khususnya warga masyarakat Kecamatan Amarisi Timur, Barat dan Selatan banyak menggeluti peternakan sapi potong tersebut.

    Wilayah tersebut memang berbeda dengan wilayah sekitarnya, karena memiliki udara lebih dingin di musim kering. Sehingga terik matahari yang terkenal di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terasa lebih nya­man. Sementara kawasan lain, kondisi kering sebagai indikator umum wi­layah NTT masih juga dirasakan. Di kawasan ini, komoditi yang po­tensial adalah tanaman nyiur (kelapa) dan pisang sebagai unggulannya. Se­mua produk pertanian ini, menjadi pasokan bagi permintaan pasar sekitar Kota Kupang.

    Bermula dari pemikiran seorang anak muda bernama Arwadi A. Fora (35 th). Ia adalah mantan anggota LSM di Kupang yang kemudian mendapat tugas sebagai pembina kegiatan program community develop­ment selama dua tahun. Kemudian ia ikut memotori berdirinya KSU Setara pada 1999. Pe­ngalamannya mengikuti kegiatan LSM serta luasnya hubungan aktif dengan berbagai pihak di luar desanya, dapat mendorong koperasinya ber­kembang secara bertahap sampai saat ini. Langkah yang ditempuh kembali ke desanya, didorong keinginan untuk membantu keluarga dan masyarakat di wilayahnya, agar mampu keluar dari kemis­kinan dan ketidakmampuan menuju kesejahteraan hidup.

    Proses memperkenalkan pembentukan koperasi, pada awalnya ber­buah penolakan oleh para orang tua di wilayah bersangkutan. Mereka masih trauma atas pengalaman di masa lalu. Khususnya dalam kaitan dengan ketidakberhasilan para pendiri koperasi yang lama dalam mengem­bangkan usahanya. Dampaknya sejumlah uang yang berhasil terkumpul saat itu di koperasi lenyap tanpa pertanggungjawaban.

    Apa boleh buat, hal itu menjadi pengalaman dan memberi gambaran negatif atas peran dan fungsi koperasi di wilayah bersangkutan. Itulah yang menjadi tantangan pertama dan paling berat bagi Arwadi A. Fora, yang justru berpengalaman dan memiliki paham berbeda. Ia punya keya­kinan karena belajar dari koperasi sebelumnya.

    Dia pun merangkul orang-orang muda di kampungnya. Mereka digalang dalam kelompok selama hampir dua tahun, sebelum membentuk KSU Setara. Ia mendidik dan memberi wawasan dengan usaha keras, agar siap menjadi anggota koperasi yang paham tentang perkoperasian.

    Itulah langkah yang ia gunakan membangun landasan yang kuat dalam organisasi koperasi. Hasilnya, koperasi mampu mengembangkan ke­giatan usaha sampai saat ini. Hubungannya dengan pihak luar, baik instansi terkait seperti Dinas Peternakan atau Dinas Koperasi. Seiring de­ngan itu, pilihan ditetapkan dengan mengembangkan kegiatan usaha baru di bidang pengge­mukan sapi yang dapat mendukung usaha simpan pinjam koperasi.

    Artinya nilai tambah dari usaha penggemukan sapi potong dan ber­bagai kegiatan pendukung lainnya, akan dapat diraih dan dinikmati sendiri oleh para angota. Dengan semangat seperti itu, kegiatan kelompok ini menarik sekelompok anak-anak muda yang selanjutnya diberi pin­jaman, untuk dikembangkan menjadi usaha mereka. Maksudnya, pende­katan pengembangan koperasi dimulai dengan membangun kelompok calon anggota yang diharapkan memiliki usaha produktif.

    Pengembangan usaha anggota itu dibimbing secara proporsional. Sehingga setiap anggota dapat menjadi wirausaha baru. Baik ditinjau dari sisi terbentuknya unit usaha baru yang berbeda-beda maupun dari sisi bertam­bahnya pengusaha baru. Karenanya awal kegiatan yang dilakukan oleh Arwadi A. Fora, adalah memberi kesempatan kepada rekan-rekannya yang dipercaya dan siap untuk bekerja keras.

    Apalagi alam di wilayah bersangkutan sangat tidak bersahabat untuk usaha pertanian pada umumnya. Orientasinya adalah membuat hidup rekan-rekan itu menjadi lebih baik dari apa yang berhasil diraih para orang tua mereka, dan mampu mengembalikan dana pinjaman. Langkah ini menjadi rintisan proses pengembangan kualitas mereka sehingga menjadi anggota koperasi simpan pinjam di masa mendatang, dengan pemahaman tentang kewajiban dan hak yang harus diketahuinya.

    Berbekal sumbangan maupun hibah yang disampaikan oleh sejumlah organisasi asing dan juga LSM tempat ia pernah bekerja, maupun dari beberapa lembaga yang menunjukkan minat membantu, ia mulai mem­bangun koperasi yang menjadi impiannya. Kegiatan pokok awal adalah simpan pinjam, yang cikal bakalnya telah dilakukan mulai tahun 1977, jauh sebelum badan hukum KSU ini diperoleh tahun 1999. Perjalanan koperasi selanjutnya mengalami peru­bahan dalam merespon peluang yang ada.

    Hal itu didorong oleh pengalaman Arwadi A. Fora yang pernah mengem­bangkan kegiatan penggemukan sapi di wilayahnya. Ia juga sudah terbiasa dan mengetahui bagaimana bekerja de­ngan para orang tua. Terutama sebagai pengelola yang memperoleh upah memelihara sapi-sapi. Sejumlah siasat bisnis ia peroleh. Antara lain melakukan penga­daan sapi secara lokal atau dibeli dari daerah seki­tar wilayah Amarasi.

    Kegiatan simpan pinjam yang cukup berhasil itu didukung dengan cara memberi pinjaman pada sejumlah pemuda tertentu yang dikenal dan memi­liki usaha cukup bagus. Rata-rata mereka ini lulusan SMP dan SMU. Mereka itulah pelopor pengembangan KSU Setara. Sampai saat ini mereka mam­pu me­­nunjukkan keunggulan usaha, terbukti dari kemampuan mereka meng­ang­­sur pinjamannya. Ada juga sejumlah hambatan yang terkait dengan ke­­giat­an ini, tetapi mereka dapat menyelesaikannya sebagai suatu hal yang wajar.

    Ia memakai pola community development dan menggunakan koperasi sebagai wadah kegiatan dari kelompok-kelompok anggota yang tersebar di empat kecamatan. Langkah itu menjadi strategi dalam rangka mencari dan kemudian membina kepercayaan para “calon-calon” anggota tetap.

    Mereka sadar, dengan berkoperasi dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Termasuk berpeluang menerapkan jatidiri koperasi secara lebih intensif. Proses pembinaannya sampai saat ini masih saja ditangani sepe­nuhnya oleh ketua, dibantu oleh para pengurus lain. Tiga serangkai pengurus KSU yang aktif saat ini, masing-masing Arwardi A. Fora (ketua); Fredik Bijae (Sekretaris); Sefnat E Beis (Bendahara).

    Kegigihan pengurus membangun KSU hampir 10 tahun ini, telah diakui oleh masyarakat desanya maupun instansi atau dinas terkait. Penghargaan itu dapat dilihat dari berbagai bantuan yang diterima, seperti dari Kemen­terian Koperasi dan UKM pada 2006.
    Prestasi koperasi, walaupun secara organisasi boleh dikatakan belum sesuai ketentuan yang berlaku, namun secara operasional koperasi ini berhasil memanfaatkan kondisi wilayah usaha dengan berbagai keberhasilan. Ambil contoh terkait fakta meningkatkan kualitas kehidupan para anggota.

    Saat ini berbagai kegiatan pendukung menyusul kegiatan usaha pengge­mukan sapi juha menampakkan hasil. Ini merupakan kegiatan derivatif, seperti pengembangan lokasi pemotongan sapi (penjagalan). Juga penjualan produk-produk sampingan hasil pemotongan sapi dengan pihak mitra usa­hanya, seperti kaki sapi, kulit dan bagian lainnya. Arah pengembangan me­nunjukkan, kegiatan tersebut akaan menjadi kegiatan tersendiri yang dapat melayani kebutuhan pihak ketiga. Kegiatan peng­gemukan sapi didu­kung pula oleh tersedianya pakan alami karena ada tanaman lamtoro, yang menyuburkan pertumbuhan sapi.

    Berkembangnya kegiatan tersebut, berarti tersedianya sejumlah pe­luang kerja bagi masyarakat di desa. Apalagi kalau usaha ini kemudian dikembang­kan lebih lanjut menjadi salah satu kegiatan produktif di daerah ber­sangkutan. Pihak pemerintah daerah, khususnya di kecamatan dapat meng­ambil inisiatif untuk membantu pengembangan usaha masyarakat terkait.

    Dengan demikian masyarakat desa bersangkutan berpeluang me­ngem­bangkan sendiri kegiatan kerja menjadi lebih banyak lagi. Misalnya pening­katan kebutuhan akan pakan hijauan yang harus disediakan. Demi­kian juga kebutuhan melakukan kegiatan perawatan sapi, mengi­ngat jum­lah sapi yang digemukkan dapat meningkat jumlahnya di daerah ini. Pa­da gilirannya diharapkan koperasi tetap dapat menjadi pelopor men­dukung peningkatan nilai tambah bagi desa, kecamatan bahkan kabupatennya.

    Perluasan usaha yang dilakukan oleh KSU SETARA, yang anggo­tanya tercakup dalam kelompok-kelompok anggota, menunjukkan bahwa layanan ekonomi masyarakat yang dilakukan juga dirasakan semakin meluas dan bermanfaat bagi masyarakat juga. Untuk itu perlu mulai dirancang model evaluasi dan monitoring perkembangan KSU SETARA, khususnya untuk menilai dengan jujur dan adil bagaimana sumbangan yang telah diberikan bagi perkembangan wilayah dan bagaimana pula layanan pemerintah kepada lembaga masyarakat yang telah memberikan kontribusinya.

    Hal ini tidak lain agar dapat memunculkan potret koperasi yang sebe­narnya dalam melayani kebutuhan anggotanya, yang pada gilirannya dapat memberikan sumbangan bagi wilayahnya. Hal ini memerlukan perhatian. Mengingat secara khusus pendekatan yang digunakan dalam membangun maupun mengembangkan koperasi ini merupakan model community development.

    Bisa jadi model tersebut dikembangkan menjadi petunjuk operasional teknis, bagi pengembangan koperasi di wilayah-wilayah yang relatif terting­gal. Tegasnya, menggabungkan konsep community development program dengan membangun koperasi yang bertumpu pada masyarakat miskin atau tertinggal. Dengan mengembangkan usaha yang produktif disertai pendi­dikan dan pemberian wawasan serta memakai berbagai cara pembaruan yang efektif untuk membangun masyarakat di wilayah setem­pat, bisa jadi merupakan faktor strategis membangun koperasi yang dapat memberikan perubahan bagi wilayahnya.

    Walaupun KSU SETARA ini belum sepenuhnya dapat menun­jukkan gam­baran satu bentuk koperasi yang sempurna prestasinya, baik ditinjau dari sisi administratif maupun keorganisasiannya serta keleng­kapan kelem­bagaannya, namun koperasi ini sudah dapat menunjukkan dirinya sebagai indikator keberhasilan satu koperasi dalam membangun wilayahnya.

    Indikasi itu sudah nampak, di mana kalau pada 4-5 tahun yang lalu sebagian besar masyarakat di Kecamatan ini banyak yang mengelola penggemukan sapi milik Pusat KUD atau NCBC, sekarang sebagian dari para pemuda mengelola sapi yang dimiliki koperasinya. Pemilikan sapi dilakukan melalui dana bantuan perkuatan yang dikelola sebagai bagian dari simpan pinjam.

    Secara bertahap telah terjadi perubahan keseimbangan kerja bagi penduduk di kecamatan ini. Maksudnya, dari bekerja untuk pihak lain ber­geser dan mengarah pada bekerjanya koperasi yang berarti untuk diri sendiri. Indikasi keberhasilan usah ditunjukkan oleh sebagian para anggota koperasi, terutama yang sudah bekerja kurang lebih 10 tahun. Keberhasilan tersebut ditunjukkan dari kemampuannya untuk membangun rumah sendiri, walaupun masih bersifat setengah dinding.

    KSU Setara relatif tumbuh berkembang di wilayah yang relatif ter­tinggal dengan kondisi yang juga kurang mendukung. Walaupun iklim­nya relatif lebih baik dibanding wilayah sekitarnya di Kabupaten Ku­pang. Untuk itu potret koperasi yang ingin ditunjukkan lebih menyang­­kut gambaran ke­mampuan koperasi ini membangun kehidupan para pemuda, yang relatif tidak memiliki pendapatan tetap menjadi anggota yang disiplin mendukung kegiatan koperasi, diantaranya dalam kegiatan penggemukan sapi. Kegiatan yang dilakukan oleh para anggotanya itu memang tidak menjadi kegiatan usaha utama bagi anggota, karena pemeliharaan atau perawatan yang dilakukan tidak memerlukan ke­giatan full time.

    Saat ini KSU Setara telah melayani anggota yang tersebar di wilayah lima Desa di Kecamatan Amarasi; lima Desa di Kecamatan Amarasi Selatan; dua Desa di Kecamatan Amarasi Barat; dan satu Kelurahan di Kecamatan Ku­pang Timur.

    Luasnya wilayah itu, pada gilirannya telah membuat koperasi memiliki jumlah anggota sebanyak 314 orang (2005). Rinciannya, terdiri atas anggo­ta tetap sebanyak 113 orang (20 orang diantaranya adalah pendiri). Se­dang­kan calon anggota mencapai 142 orang disertai calon lain yang relatif masih baru sebanyak 59 orang. Angka itu menunjukkan gambaran potensi bagi koperasi berkembang menjadi lebih besar. Hanya saja diper­lukan dukungan berupa kegiatan pengamanan atau langkah preventif yang cukup intensif, khususnya dalam mengelola berbagai kelompok anggota di lapangan.

    Perlu ada aplikasi sistem operasional bagi masing-masing kelompok ang­gota yang tersebar di wilayah yang cukup luas. Tujuannya, men­cip­takan pengendalian secara dini atas berbagai penyimpangan yang mungkin terjadi di kelompok anggota. Langkah itu akan dapat membantu pengurus mengendalikan kegiatan operasional penggemukkan sapi atau mengelola budidaya sapi potong. Dengan demikian semakin banyak jumlah anggota yang merasa memperoleh peluang dan manfaat dari kegiatannya. Seka­ligus secara bersamaan ingin tetap juga dapat dilayani dengan lebih baik, dengan memperhatikan keragaman tuntutan layanan yang diharapkan.

    Walaupun hal itu saat ini belum nampak, mengingat kesibukan para anggota yang masih terikat dalam pelaksanaan kegiatan usahanya, akan tetapi kewaspadaan harus sudah mulai dibangun. Misalnya dengan mengem­bangkan pola pendistribusian kewenangan dalam pengambilan keputusan teknis secara proporsional. Termasuk melibatkan para ketua kelompok ang­gota untuk melakukan proses monitoring dan evaluasi atas berbagai kegiatan yang dilakukan.

    Kegiatan pendidikan teknis juga menjadi concern pengurus. Terutama un­tuk mendukung pengelolaan kegiatan penggemukan sapi yang termasuk dalam budidaya sapi potong. Program pendidikan yang pernah dilakukan men­cakup bidang pengelolaan ternak sapi dan bidang perkoperasian. Mereka ada juga yang mengikuti program magang dan pelatihan yang di­selenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM bersama dengan pihak Dinas terkait. Selain itu, masih ada program kerja sama dengan ASDP Australia, yang membahas masalah peternakan sapi, manajemen usaha ternak serta masalah makanan ternak.

    Persisnya sejak tahun 2003, koperasi ini menangani kegiatan peng­gemukan sapi. Kegiatan dilakukan sesuai dengan potensi yang ada di wila­yah ini. Apalagi sebelumnya kegiatan serupa yang disponsori Pusat KUD NTT dan koperasi nasional Amerika Serikat atau NCBA menjadi pesaing kuat dari koperasi.

    Pola kedua pelaku penggemukan sapi tersebut, mereka melakukan pem­belian sapi di pasar-pasar yang kemudian menitipkan pada masyarakat untuk dirawat. Upah kerja diberikan secara bulanan serta pembagian insen­tif dari kelebihan harga jual. Mereka sulit disaingi, karena memiliki permo­dalan cukup kuat. Hasil penggemukan sapin lalu dijual kepada pihak ketiga dan biasanya tanpa standar ukuran besar dan berat sapi. Dari kelebihan berat sapi, umumnya mereka menerima bagian 25% saja, dan selebihnya menjadi bagian pemilik sapi.

    Menyikapi persaingan itu, KSU ini membuat model kerja sama dengan para anggota dengan ketentuan yang berbeda. Dari koperasi para anggota memperoleh upah perawatan atau upah kerja (sama). Tetapi upah ini diambil dari bagian kelebihan harga, yang dianggap sebagai bagian SHU. Kom­posisinya, 70% untuk koperasi yang digunakan untuk membayar kembali bantuan perkuatan yang sifatnya bergulir. Sedang sisanya 30% untuk para anggota yang merawat sebagai insentif.

    Sementara besarnya SHU dapat dihitung dengan memakai perkiraan sebagai berikut:
    a. Berat sapi rata-rata dibeli 125–150 kg
    b. Berat sapi rata-rata dijual, minimum 225 kg
    c. Harga Jual – Harga Pokok Penjualan = Profit penjualan
    (dibagi untuk anggota 30% dan untuk koperasinya 70%).

    Perhitungan dari KSU Setara itu dimaksudkan memotivasi kepada para anggota, agar berat sapi dalam kurun waktu dua tahun dapat meningkat dan sekaligus harus beranak selain upah kerja yang diterima perperiode tertentu.

    Seperti disebutkan, penggemukan sapi mulai 2003 dimulai dari pembagian sebanyak 42 ekor sapi dengan harga beli Rp 70 juta. Ini sebagai dana bergulir dari APBD melalui Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT. Penerima adalah 21 orang anggota dari Kelompok Setara Desa Tesbatan.

    Program itu dapat melayani 16,3% dari jumlah anggota saat itu 129 orang. Selanjutnya, sapi yang telah terjual seba­nyak dan menghasilkan laba sebesar Rp 1 juta. Sehingga tiap anggota memper­oleh bagian sebesar Rp 300 ribu sedang­kan koperasi memperoleh Rp 700 ribu.

    Kemudian tahun 2004, koperasi kembali memperoleh bantuan dana bergulir dari APBD, yang disalurkan melalui Dinas Koperasi dan UKM Propinsi NTT. Menurut informasi, bantuan digunakan sebagai batu uji atas kemampuan dan potensi KSU Setara mengelola bantuan dana bergulir.

    Jumlah sapi lokal yang dibeli mencapai 86 ekor (dengan harga beli Rp170 juta). Lalu dibagikan untuk 43 orang (yaitu kelompok Fektateftit, Bena Tesbatan II, dan Mawar Oenoni II). Program ini melayani 19,3% dari jumlah anggota saat itu 223 orang. Dalam program tersebut para anggota selain menerima pekerjaan merawat dan menggemukkan dua ekor sapi (dan karena itu mereka menerima upah untuk merawat), juga harus melengkapi kegiatan dengan satu ekor sapi yang pengadaannya dilakukan secara mandiri (dibeli atau disiapkan dengan dana sendiri).

    Untuk tahun berikut tambahan harus menjadi 2 ekor (membeli satu lagi atau kalau yang lama dijual, berarti membeli dua ekor yang baru), demi­kian selanjutnya. Program ‘setengah paksaan’ ini berdampak luas pembinaan kemampuan para anggota bersangkutan. Mengapa? Karena mereka didorong secara aktif untuk mampu berhemat dan memiliki kebiasaan menyimpan untuk menjawab tugas tersebut.

    Dengan program sapi mandiri itu, diharapkan dapat didorong terwu­judnya skala ekonomi usaha penggemukan sapi. Yaitu dua ekor sapi per ke­luarga sudah mampu mendorong peningkatan kesejahteraannya. Berdasar perhitungan rata-rata, dengan merawat dua ekor sapi untuk dige­mukkan dengan upah kerja bulanan dan nantinya memperoleh bagian SHU dari hasil penjualan sapinya, maka total pendapatannya akan dapat men­dukung kepastian kehidupannya.

    Keberhasilan demi keberhasilan serta kompetensi pengurus, mendo­rong ditetapkannya KSU Setara sebagai penerima bantuan dana bergulir APBD melalui Dinas Koperasi dan UKM Propinsi NTT untuk periode tahun 2005. Besarnya dana mencapai Rp 175 juta, yang kemudian dipakai untuk membeli 100 ekor sapi baru. Bantuan ini kemudian dibagi­kan untuk 50 orang anggota (kelompok Birane Pakubaun dan Anugrah Siuf). Angka tersebut mencapai sebesar 18,7% dari jumlah anggota sebanyak 268 orang.

    Selanjutnya pada tahun 2006, Menteri Negara Koperasi dan UKM juga memberikan bantuan pengadaan sapi lokal untuk penggemukan sebanyak 500 ekor dengan nilai beli Rp 1,5 miliar. Sapi itu kemudian dibagikan ke 250 orang anggota. Pelayanan itu mencakup sebesar 79,6% dari jumlah 314 anggota (Maret 2006).

    Lompatan prestasi KSU ini secara teknis cukup menggembirakan. Karena mampu menunjukkan terjadinya proses pelayanan pengurus kepada para anggota. Apalagi kalau dikaitkan dengan kondisi wilayah di mana KSU harus beroperasi. Konsekuesinya, koperasi meluaskan wilayah layanan mencakup tujuh desa yang dilayani.

    Kegiatan yang dikembangkan itu telah mengubah kehidupan sebagian masyarakat di desa-desa yang tergabung dalam kelompok anggota KSU. Karena itu sejak tahun 2003 ju­ga, sebagian orang tua sudah ada yang masuk menjadi ang­gota, semen­tara yang lain masih trauma.

    Di sisi lain, KSU juga telah melakukan investasi sebesar Rp 41,5 juta untuk membuat kan­dang semi permanen. Ini dila­kukan secara kolektif bagi ma­sing-masing kelompok di wila­yah­nya dan meliputi jumlah kan­dang sebanyak 228 buah unit.

    Kalau pada tahun-tahun sebelum 2003, kegiatan simpan pinjam di­mulai dengan kelompok yang terbatas. Selanjutnya, proses resmi pinjaman dilakukan dengan menyesuaikan dengan kegiatan penggemukan sapi. Yang jelas, selama ini kegiatan simpan pinjam simpanan pokok dan wajib telah menjadi komponen modal sendiri bagi koperasi. Akumulasi kinerja modal sendiri hingga 2005 untuk simpanan pokok Rp 158.400.000,- dan simpanan wajib Rp 4.665.000,-.

    Sementara besarnya cadangan mencapai Rp 1.200.000,- dan SHU Rp 1.150.000,-. Simpanan sukarela tercatat Rp 7.500.000,-. Dana-dana bantuan dari luar juga ditempatkan sebagai komponen modal luar yang besarnya Rp 1,915 miliar.

    Dari semua pemaparan di atas, dapat disimpulkan sementara kinerja KSU ini menunjukkan awal dari kebang­kitan usaha penggemukkan sapi masih belum menuai hasil yang memadai. Maksud­nya, masih menunggu waktu selaras dengan macam kegiatan yang ditempuhnya. Dengan besarnya bantuan yang diterima pada tahun 2006, ada harapan bagi koperasi ini meningkatkan potensinya lebih lanjut.

    Kesederhanaan kegiatan usaha menunjukkan, koperasi ini baru mulai berkembang dari sisi bisnis. Sementara dari sisi kelembagaan, mungkin sekali landasan yang sudah diciptakan koperasi mampu menjadi andalan bagi desa dan keca­matannya. Sedangkan dari sisi permo­dalan, sangat jelas koperasi banyak menda­pat kepercayaan atau fasilitas dari pemerintah yang dengan bermacam bantuan dana seperti terlihat pada tabel 2.

    Dari sisi kegiatan penggemukan sapi, laporan penjualan yang terjadi pada tahun 2005 menunjukkan, ada 21 anggota yang menjual sapinya kepada koperasi. Rinciannya, sebanyak 18 orang masing-masing men­jual dua ekor sapinya dan tiga orang masing-masing menjual satu ekor.

    Berat rata-rata di atas 200 kg sebanyak lima ekor sapi. Lalu kategori sapi dengan berat di atas 210 kg sebanyak empat ekor. Sedangkan sapi di atas 220 kg terjual sebanyak tujuh ekor. Sementara sapi dengan berat di atas 230 kg terjual sebanyak 23 ekor. Harga jual daging sapi mencapai Rp 11.500 per kg.

    Dengan rekapitulasi total perhitungannya menjadi sebegai berikut.
    Hasil penjualan total mencapai Rp 106.940.500,-
    Harga pokok pembelian Rp 58.500.000,-
    Biaya Operasional Rp 1.170.000,-
    Laba bersih 47.258.800,-

    Komposisi pembagian laba menjadi 70% buat pemelihara (Rp 33.081.160,-) dan 15% buat KSU Setara (Rp 7.088.820,-). Sementara yang 15% untuk Dinas Koperasi dalam konteks membayar kembali kredit dana bergulir. Hasil bagi untuk masing-masing pemelihara ditetapkan proporsional, tergantung dari berat sapi yang dijualnya dengan kisaran antara Rp 469 ribu sampai dengan Rp 1.361 juta.

    Perkembangan lain, koperasi melakukan kegiatan pemberian sapi bibit, dan menggulirkannya melalui anak dara keturunan satu dan seterusnya sampai empat ekor untuk anggota yang belum memperoleh bantuan.

    Sampai di sini cukup jelas, faktor strategis keberhasilan usaha pengge­mukan sapi ini terkait dengan pengembangan kualitas kelompok. Ke­lompok anggota yang dibentuk itu, terutama untuk menekan terjadinya ham­batan dalam pengendalian di samping juga kurangnya tenaga lapangan. Modelnya memakai model yang digunakan oleh LSM, namun masih harus didampingi secara lebih intensif.

    Pada gilirannya diperlukan bantuan terkait pembinaan kelembagaan yang diharapkan dapat membantu mengatasi kesulitan operasional. Misalnya, menumbuhkan sikap dan perilaku bisnis yang konsisten. Lang­kah ini dimaksudkan dapat menciptakan ketekunan dan kesabaran yang menjadi faktor kritis mengembangkan budidaya peternakan. Inilah profil koperasi yang dibangun melalui pendekatan pembangunan masya­rakat. Kegiatan membutuhkan ketekunan, kesabaran dan inovasi serta keberanian untuk mengambil risiko.***

    Related Posts :



0 komentar:

Leave a Reply

Recent Comment


ShoutMix chat widget

Random Post